December 16th, 2005 by sendirikutermenung

Bannerblogaholicacute<<<<keren kan? Di http://blogaholicacute.blogspot.com

HATER!!!

December 12th, 2005 by sendirikutermenung

I HATE MONDAY.
AND TUESDAY TOO!!!

I   H A T E   M O N D A Y .
A N D   T U E S D A Y   T O O ! ! !

hmm…

October 25th, 2005 by sendirikutermenung

Aaahh… dapet ide lagi. Sudah dimasukin di http://profmustamar.blogspot.com/

—————————————reading Istana Angan Angan—————
—————————————posting a poem—————————
—————————————posting an article————————-

kembali ke rumah lama

September 30th, 2005 by sendirikutermenung

:::rumah lama::: http://www.profmustamar.blogspot.com/

use only Internet Explorer 5.0 to open the page for getting best result!!

September 29th, 2005 by sendirikutermenung

Pada rumput yang mengering
Pada rintik hujan yang tak lagi pernah berkunjung ke bumi
Pada jalan yang melunak oleh terik surya yang sedang marah…

Hidup adalah sebuah batu
Hidup adalah sebatang kayu
Yang tak pernah bergerak, dan tak akan pernah bergerak
Jika satu jari tak pernah menyentuhnya
Atau satu kaki tak pernah menendangnya hina

Dan mati adalah sebuah lampu
Mati adalah sebatang lilin
Takkan terang jika bukan gelap yang ia terangi
Takkan mencurahkan arti pada dirinya jika gelap tak menyapa dalam ruang

Marahlah..
Geramlah…
Tapi hidup adalah keadilan
Keadilan bagi mereka yang berdiri di atas hidung-hidung kita
Keadilan bagi mereka yang duduk ongkang kaki
Mengejek kita dengan wangi sepatunya yang hitam mengkilap
Pantulkan sinar lampu yang ia beli dengan uang budaknya…

Dan diamlah…
Bagi kalian yang bahagia hidup terjajah
Bagi kita yang tertawa walau hidup merangkak
Terlindas kakinya yang tak lagi pantas berpijak di atas tanah penderitaan kita

Dan bersatulah…
Sadarlah, kita lebih besar darinya…
Manusia lebih berakal dibanding binatang yang berdasi sekali pun
Sadarlah, tanah kalian direbut
Sadarlah, keringat kalian adalah tawanya

Satu kata lagi yang bisa kita ucap bersama,
LAWAN!!!

tak pernah sisihkan kesempatan tuk lanjutkan, maaf… kini kau yang kuharap lanjutkan. maaf…

September 23rd, 2005 by sendirikutermenung

Negeri Kedua

Pernahkah kamu melihat suatu tempat, tempat yang sangat indah, di mana segala macam kebaikan terdapat di dalamnya, di mana kedamaian adalah bagian yang tak terpisahkan di setiap hari-harinya, dimana semuanya hidup berdampingan dengan damai, tanpa sedikit pun gangguan yang mengancam?  Tentu saja tidak, begitu juga yang lainnya.
Tapi tempat yang seperti itu ada. Tempat itu bernama…  Negeri Unmul… dan di sinilah cerita kita dimulai.
Negeri Unmul adalah negeri yang sangat indah dan sangat cantik. Padang rumput yang hijau dan sangat luas adalah selimut bagi tanah-tanahnya yang subur; kebun bunga yang indah, yang tersusun dari berjuta warna-warna yang cerah adalah ruang bermain yang menakjubkan bagi anak-anak di negeri ini; dari atas pegunungan yang tertutup embun, membentang pelangi yang paling indah yang ujungnya berhenti di permukaan danau yang biru dan luas di lembah bukit; sungai-sungai yang mengalir membelah daratan negeri adalah sungai-sungai dengan air yang paling jernih dan arus yang paling tenang dibanding semua sungai yang ada di tempat-tempat lain.
Tawa, ceria dan suka cita adalah bagian utama pengisi keseharian penduduknya. Sedangkan tangis dan duka adalah bagian lain yang sangat langka terjadi di negeri ini.

Tapi itu adalah Negeri Unmul beberapa tahun silam. Kini, kondisi negeri ini jauh berbeda dibanding dengan kondisi tahun-tahun yang lalu. Negeri Unmul sedang mengalami bencana yang sangat mengerikan, suatu yang misterius –sangat misterius.
Tidak seorang pun yang tahu penyebab bencana ini; hutan-hutannya sudah banyak yang rusak tanpa sebab yang jelas; taman bunganya hanya tinggal puing-puing batang kering dan daun-daun yang layu; pelangi tak pernah lagi muncul dari balik perbukitan; dan padang rumputnya yang dulu luas kini hanya sisa sepetak kecil yang dijadikan tempat merenung bagi sebagian anak-anak yang berkumpul.
Dan, sesuatu yang lebih misterius lagi yang terjadi di negeri ini, yang jauh lebih menakutkan, yaitu hilangnya penghuni-penghuni Negeri Unmul satu demi satu secara misterius. Tidak ada satu pun yang mengetahui penyebabnya dengan pasti. Tiba-tiba saja salah satu anggota keluarga hilang –lenyap- ketika sedang makan malam atau sedang mengobrol bersama anggota keluarga yang lain; atau salah seorang teman dekatmu hilang ketika kamu berjalan berdua bersamanya, tanpa kau tahu ke mana perginya. Mereka lenyap begitu saja, tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Begitu  misterius.
Karenanya, ketakutan kini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari para penduduk. Mereka tidak lagi sebahagia dulu, mereka tak lagi bersemangat seperti dulu. Satu pertanyaan yang sering mereka ajukan, entah pada dirinya, atau orang-orang disekitarnya, ”mungkinkah aku yang hilang berikutnya?”

Di punggung bukit, pada sepetak rumput yang masih tersisa, sisa-sisa padang rumput yang dulu pernah hijau dan luas, lima remaja Unmul lesu menatap ke arah danau yang keruh dan makin mengering  di bawah mereka. Padahal, mereka masih ingat, beberapa tahun yang lalu, danau itu sangat luas, dan ikan-ikan hidup bebas di dalamnya. Tidak pernah sedikitpun terbayangkan oleh mereka, negeri mereka yang dulu indah kini rusak parah tanpa diketahui penyebabnya. Juga tidak pernah mereka mengira bahwa hidup mereka akan berakhir dengan cara yang tragis –lenyap begitu saja.
Mereka semua menyadari, negeri mereka butuh sesosok pahlawan, yang bisa membebaskan mereka dari ketakutan. Seorang pahlawan yang bisa memecahkan misteri ini, dan mengembalikan negeri mereka seperti dulu.
Namun penduduk Negeri Unmul bukanlah para tentara. Tidak satu pun dari penghuninya pernah menyaksikan, atau mengalami suatu pertempuran.
Begitu pun dengan mereka. Mereka hanyalah sekelompok remaja berusia di bawah 20 tahun. Mereka bukanlah sekelompok ksatria, atau tentara, atau pahlawan yang bisa membebaskan negeri mereka dari bencana aneh ini. Yang mereka inginkan hanyalah ketenangan dan keamanan, dan jauh dari rasa takut.
Mereka masih ingat jelas, dua bulan yang lalu ketika sahabat mereka, Rog, petani tua yang hidup sendiri di gubuk tuanya, lenyap begitu saja saat mereka sedang asik mengobrol bersama tepat di padang rumput yang sedang mereka duduki saat ini.
Ketika hal itu terjadi, Haniew berteriak keras sekeras-kerasnya, ketakutan. Lalu, Feryn meraih lengannya, dan memeluknya. “Jangan takut, Hanie,” bisiknya,. ”Banyak teman-temanmu di sini, dan tidak ada apa-apa yang akan terjadi pada kita.”
Shadra geram sekali saat itu. “Sialan! Akan kuhabisi kau! Siapa pun kau!!” teriaknya, entah kepada siapa.
Naim dan Madi, si kembar penakut yang selalu bersama-sama, gemetar ketakutan, menangis dan tidak berani membuka matanya ketika semua itu terjadi. Mereka berdua baru berani membuka matanya ketika Shadra, si kurus sahabatnya menenangkan keduanya, dan mengatakan bahwa Rog sudah lenyap, dan yang lainnya dalam keadaan selamat.
Haniew adalah gadis yang kesepian. Sejak kecil ia tidak mengenal keluarganya. Ia tiba-tiba saja ditemukan di kebun bunga oleh sebagian penduduk yang sedang lewat. Dan sejak saat itu ia tinggal bersama keluarga Feryn di Negeri Unmul.
Feryn, cewek yang sangat bijak dan cerdas. Ia yang paling dewasa di antara yang lainnya. Dan juga paling banyak menyaksikan hilangnya panghuni-penghuni Negeri Unmul. Bagi teman-temannya, Feryn adalah penasihat yang tepat dalam segala hal.
Sedangkan Naim dan Madi adalah anak laki-laki kembar yang sangat penakut, yang tinggal di daerah barat Unmul. Mereka selalu bersama, dan selalu mempunyai visi yang sama. Saat mereka sedang dalam ketakutan, satu-satunya yang bisa menenangkan mereka adalah Shadra, yang bertubuh kurus, tapi punya sejuta keberanian.
Shadra adalah pemimpin Negeri Unmul yang baru. Karena Sovana, ayahnya, yang dulu adalah pemimpin di negeri itu hilang –secara misterius, maka ia diangkat menjadi pemimpin yang baru, menggantikan ayahnya. Padahal ia masih remaja, ia tidak punya pengalaman memimpin. Tapi ia terpaksa menggantikan ayahnya karena ia adalah anak satu-satunya, satu-satunya penerus yang dimiliki keluarga Shadra –leluhur Shadra adalah pemimpin-pemimpin Negeri Unmul sebelumnya secara turun temurun.

Di punggung bukit itu mereka duduk, terdiam, dan hanya menikmati angin panas sore, namun sedikit lebih sejuk daripada di tempat lain di Negeri Unmul. Hingga, tiba-tiba…
“Negeri kedua!” suara asing tiba-tiba terdengar oleh mereka. Entah dari mana asal suara itu. Tapi sepertinya sangat dekat. Suaranya bergetar, dan sangat tegas. Sangat pelan, tapi seolah menggema ke seluruh tempat.
Mereka melihat ke sekeliling, tapi tidak ada siapa-siapa di situ selain mereka. Tidak ada tanda-tanda orang yang berteriak, atau berbicara.
“Siapa itu?,” teriak Shadra, “Heii… siapa itu?!! Heii..!!!” teriaknya…
Suara itu tak terdengar lagi. Sementara Haniew sudah memegang erat tangan Feryn, sedangkan Naim dan Madi sudah saling peluk, gemetar ketakutan.
“Tenanglah, Hanie, Naim, Madi,” kata Feryn, mencoba menenangkan teman-temannya yang ketakutan. “mungkin sebaiknya sekarang kita pulang, rasanya tidak baik kalau kita berada di luar sekarang,” kata Feryn lagi sambil mengangkat Haniew berdiri yang masih dalam suasana ketakutan.
“Aku takut,” kata Haniew.
“Tidak perlu takut, Hanie. Tapi kurasa yang dikatakan Feryn benar, kita sebaiknya pulang. Aku merasa ada yang aneh dengan suara tadi,” kata Shadra, mengiyakan ajakan Feryn. Madi dan Naim sudah berlari jauh ketika Shadra berbicara seperti itu.

Malamnya, Shadra sedang sendirian di ruang tamu rumahnya ketika Feryn datang menemuinya. Selain dia, di rumah Shadra tidak ada siapa-siapa lagi. Di rumah itu ia hanya tinggal sendiri.
Feryn duduk di lantai di dekat Shadra. ”Shadra, dari tadi aku selalu memikirkan suara aneh tadi sore. Menurutmu suara apa itu?” tanya Feryn, sambil memeluk lututnya. Udara malam akhir-akhir ini terasa sangat dingin.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Shadra, juga memeluk kedua lututnya, “itu yang ketiga kali aku mendengarnya,” lanjutnya.
“Maksudmu, kamu sudah sering mendengarnya?” tanya Feryn penasaran.
“Tidak juga, kurasa. Baru tiga kali. Sekali saat aku ingin tidur tiga hari lalu, dan sekali lagi saat dulu waktu Rog hilang. Dan yang terakhir, yang tadi sore itu,” jelasnya.
“Astaga! Aku makin tidak mengerti! Apa maksud semua ini? Terus terang, aku tidak pernah merasa takut sebelumnya. Tapi, semenjak aku mendengar suara aneh itu sore tadi, aku menjadi sangat takut. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan bencana ini?” tiga kata terakhir Feryn diucapkannya lambat-lambat. Dari wajahnya, terpancar jelas ketakutan yang mendalam yang ia rasakan.
“Aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas, aku tidak pernah merasa takut, kecuali aku bisa langsung bertemu orang itu,” kata Shadra. “Ooh, aku ingin sekali melihatnya. Dan jika aku melihatnya, akan kuhajar dia sampai babak belur. Berani-beraninya menakut-nakuti kita.”
“Tapi, Shad, jika benar ini ada hubungannya –ya, aku makin bisa menyimpulkan seperti itu setelah kamu bilang bahwa kamu mendengarnya ketika Rog hilang- jika ini ada hubungannya dengan bencana ini, berarti… Ooh, tapi apa yang ia katakan kepadamu  sebelumnya?”
“Maksudmu suara itu? Yaa.. yang kudengar sebelumnya persis sama dengan yang kudengar tadi sore. Suara yang tegas dan bergetar, menyebut ‘negeri kedua..’,” jelasnya.
“Persis! Itu berarti ini semua ada hubungannya. Mm.. maksudku, kerusakan ini pasti ada kaitannya dengan suara tadi. Berarti, mungkin maksud suara itu adalah bahwa Unmul adalah negeri kedua yang mengalami bencana. Kalau memang benar, itu berarti sudah ada tempat yang sebelumnya mengalami bencana seperti yang dialami Unmul,” jelas Feryn.
Shadra hanya mengangguk-anggukkan kepala, mencoba mengerti perkataan Feryn. “Dan itu berarti, kemungkinan akan ada tempat lain yang akan mengalami bencana seperti ini?”
“Ya, kamu benar, Shad. Itulah yang sangat aku takutkan. Kemungkinan yang terjadi berikutnya adalah negeri kita akan musnah, begitu pun dengan kita, dan akan ada negeri-negeri berikutnya. Ya Tuhan!”
Shadra kemudian terdiam, lalu mencoba membayangkan semua perkataan Feryn barusan. Kata-kata Feryn tadi makin membuat suasana malam semakin dingin. Lalu mereka berdua merenung, cukup lama, sehingga suara kretekan pintu dan bunyi langkah yang terburu-buru mengejutkan mereka.
Dengan nafas terengah-engah, seorang pria masuk. Bajunya lusuh, sobek di mana-mana. Keringatnya jelas sekali terlihat memantulkan cahaya lilin yang samar-samar. Ternyata ia adalah seorang laki-laki penjaga kebun di selatan negeri. Ia mencoba menenangkan dirinya, kemudian berkata, “Ada lagi yang hilang!”

Siluet di Dinding

Shadra terbangun di tengah malam oleh mimpi aneh. Suara itu datang lagi di mimpinya. Sangat jelas terdengar, namun ia tidak mengerti apa maksud suara-suara itu. “Negeri kedua! Cepat! ” kata suara di dalam mimpi Shadra.

Besoknya, pagi-pagi sekali Shadra bertemu dengan Feryn. Ia menceritakan semua mimpinya semalam kepada Feryn.
“Apa tidak ada petunjuk lain?” tanya Feryn setelah mendengar cerita Shadra.
“Aku juga tidak tahu. Aku menyesal, terburu-buru bangun sebelum mimpiku tuntas. Uh!”
“Sudahlah, mungkin kita harus mencari tahu sendiri.” 
“Haai…!! Feryn! Shad!,” terdengar suara Haniew berteriak dari belakang. Dia berlari ke arah Feryn dan Shadra bersama Naim dan Madi. Sepertinya ada sesuatu yang buru-buru harus disampaikan. “Tahu, tidak?” kata Haniew dengan nafas terengah-engah ketika sampai di samping Feryn dan Shadra, ”Iwanet, si tukang kayu di ujung jalan hilang! Tiba-tiba saja.. tiba-tiba saja ia hilang!”
“Apa?! Hilang!? kamu serius?,” tanya Feryn terkejut.
“Apa aku terlihat seperti sedang main-main, hah?” balas Haniew.
“Ya, betul, dia betul,” kata Naim pada Feryn, juga dengan nafas terengah-engah.
“Iya, Haniew nda’ bo’ong,” tambah Madi, dengan suara lelah mencoba meyakinkan Feryn.
“Ya, ya, ya… Aku tahu, kalian jujur,” kata Feryn, lalu sejenak ia –mereka- terdiam.
“Mungkin sudah saatnya aku mengambil keputusan.” Kata Shadra tiba-tiba.
“Maksudmu ambil keputusan apa? Keputusan melawan bencana, hah?! Tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa. Kita tidak tahu apa ini, dan bagaimana menghentikannya!” kata Haniew.
“Iya, benar,” kata Shadra. “Tapi aku pemimpin di Negeri ini. Aku harus melakukan sesuatu untuk negeriku. Uh! Aku merasa tidak mampu menghadapinya,” katanya, lalu terdiam sejenak, kemudian berbicara lagi, “Seandainya saja bukan aku yang jadi pemimpin…. Ah, tapi aku harus berani!”

Siluet manusia, berwarna abu-abu terlihat di dinding kamar Shadra. Meski hanya siluet, sangat jelas gerakan yang ia lakukan. Ia menunjuk ke arah barat. Berulang kali ia menggerakkan lengannya ke arah barat. Dan di setiap gerakan diikuti suara-suara aneh yang tidak biasa ia dengar. Suara lemah dan pelan. Seperti suara orang tua yang sangat lemah, atau sedang mengalami siksaan. Suara itu seperti menyuruh Shadra, atau memperingatkan. “cepat, cepat! Ke sana, jauh! Cepat!” katanya. Dan kemudian suara itu hilang.
Dan seketika itu Shadra terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah, keringat membasahi pakaian yang dikenakannya. Oh, ternyata ia cuma mimpi.. Untuk kesekian kalinya di mimpinya ia diganggu oleh suara-suara aneh..
Tapi, tidak, ini bukan mimpi. Shadra kini duduk terjaga di atas tempat tidurnya. Dan siluet itu masih ada di dinding kamarnya. Masih menggerakkan tangannya yang hanya berupa bayangan. Seperti yang ia lihat beberapa saat yang lalu. Seperti siluet orang tua dengan tubuh bungkuk, tampaknya sangat lemah.
“Cepat! Bola! Cepat!!” suara lemah dan serak itu terdengar lagi, mengikuti setiap gerakan tangannya yang juga lemah menunjuk-nunjuk ke arah barat. Suara itu sangat parau, seperti sedang kesakitan, atau lelah, atau sedang terburu-buru –atau mungin diburu, seperti mengalami siksaan. Dan bukan seperti suara yang akhir-akhir ini sering didengarnya.
Seketika Shadra tersadar. ”Apa maksudmu?” tanyanya cepat kepada siluet itu.
“Cepat, halangi! Cepat!” suara dari siluet itu terdengar lagi. Suaranya masih lemah seperti sebelumnya, namun terdengar semakin terburu-buru.
“Halangi apa? Apa yang harus saya halangi?”
“Cepat! Di Barat! Bola!” kata suara itu semakin terburu-buru.
“Tapi aku tidak…” pertanyaan Shadra terhenti. Siluet itu kini sudah hilang, tidak meninggalkan bekas sama sekali, kecuali tanda tanya dan rasa penasaran di benak Shadra.
Tapi tanpa berpikir panjang, Shadra berlari ke arah pintu, lalu bergegas keluar menuju halaman. Di tengah malam yang gelap ini, Shadra menahan dingin udara di luar rumahnya dengan hanya mengenakan pakaian tidurnya. Padahal di Negeri ini, akhir-akhir ini cuaca sangat dingin di malam hari, dan sangat panas di siang hari.
Ia memperhatikan ke luar, ke arah barat, ke arah yang ditunjukkan siluet di dinding kamarnya. Tapi tidak terjadi apa-apa.
Dengan lemah, bercampur kecewa Shadra kembali masuk ke dalam rumahnya. Ia mencoba mensugesti dirinya, bahwa  semua yang baru saja di lihatnya di kamar hanyalah mimpi atau perasaannya saja. Tapi baru saja ia hendak membuka pintu, tiba-tiba cahaya yang sangat terang terpancar di belakangnya, membuat bayangan-bayangan dirinya di daun pintu rumahnya tampak sangat jelas.
Ia berbalik, cahaya itu berasal dari jauh, dari arah timur, dari balik bukit –jauh di balik bukit. Cahaya itu sangat terang, hingga menyinari seluruh bagian negeri, sisa-sisa padang rumput dan sisa-sisa kebun bunga tampak jelas terlihat karena cahaya sangat terang yang menyinarinya. Shadra berlari ke jalan, dan berhenti tidak jauh dari rumahnya. Kini ia bisa melihat dengan jelas sumber cahaya itu.
Bentuk sumber cahaya itu menyerupai bola api besar, bercahaya biru terang dengan inti berwarna putih, dan berputar-putar sangat cepat.
Bola api itu kini bergerak cepat dari timur ke arah barat, melintas jauh di atas kepala Shadra, dan berhenti di atas bukit tempat Shadra dan teman-temannya biasa berkumpul. Oh, bukan, bola api itu berhenti lebih jauh lagi, di atas permukiman Wilayah Barat. Lalu tiba-tiba bola api itu bergerak vertikal ke atas, sangat cepat, dan tiba-tiba meluncur ke bawah, dan berhenti lagi beberapa meter di atas permukiman Daerah Barat, lalu mendadak meluncur jauh lebih ke barat dengan kecepatan sangat tinggi. Lalu menghilang. Kemudian setelahnya, angin bertiup sangat kencang, ke arah perginya bola api itu, seolah angin-angin itu tertarik olehnya.
Lalu suasana kembali normal, malam kembali gelap, dan Shadra bergegas masuk ke dalam rumahnya, masuk ke kamarnya, lalu menutup diri dengan selimut tebalnya.

MELSKY

Di pagi hari yang dingin, saat Shadra terbangun, Negeri Unmul benar-benar diliputi kekacauan. Banyak penduduk yang panik, berlarian ke sana kemari. Lalu seseorang berhenti tepat di depannya, mengatakan bahwa penduduk di Daerah Sebelah Barat menghilang seluruhnya, tidak menyisakan satu pun.
Shadra sangat terkejut mendengarnya. Itu artinya, keluarga Naim dan Madi sedang dalam masalah besar! Mereka tinggal di Bagian Barat!
Dan benar saja, saat Shadra bertemu dengan teman-temannya di tempat biasa, di sisa padang rumput di punggung bukit, Naim dan Madi sudah menangis. Di dekatnya sudah ada Feryn dan Haniew yang coba menenangkannya. Haniew juga sesekali ikut menangis karenanya.
“Semua orang di Sebelah Barat lenyap,” kata Feryn kepada Shadra. “Termasuk kedua orang tua Naim dan Madi,” lanjutnya.
Shadra sudah tidak terkejut mendengar penjelasan Feryn. Ia sudah mendengarnya dari penduduk yang panik di sekitar rumahnya tadi.
“Beruntung aku tidak punya orang tua sejak kecil. Jika aku punya, pasti orang tuaku sudah hilang sekarang. Oh, pasti sangat sedih kehilangan orang tua,” kata Haniew.
“Pasti yang semalam itu,” kata Shadra pelan pada dirinya sendiri, namun masih bisa terdengar oleh teman-temannya yang ada di situ. “Seandainya saja lebih cepat, sedikit saja.”
“Apa maksudmu?” tanya Haniew.
“Oh, yah, semalam aku diperingatkan –diperintahkan oleh seseorang –sesuatu,” jawab Shadra.
“Maksudmu?” tanya Feryn singkat, sementara di sampingnya, Naim dan Madi masih saja menangis.
Lalu Shadra menjelaskan semua yang dialaminya semalam. Secara detail, sejelas-jelasnya.
Lalu mereka terdiam, Haniew merasa sangat takut, sementara Madi dan Naim terus saja menangis, memikirkan kedua orang tuanya.
“Sudah, ah! Jangan nangis terus,” kata Shadra kepada mereka yang terus saja menangis. “Jangan takut, nanti aku temukan orang tuamu. Aku janji,” katanya, mencoba menenangkan kedua saudara kembar itu. Lalu, perlahan tangis keduanya mulai mereda.
“Tapi, bagaimana kalian bisa tidak hilang, sementara yang lain hilang, hilang tanpa sisa?” Tanya Shadra kemudian pada si Kembar.
“Kami sedang tidak di sana,” kata Madi yang sudah bisa menenangkan dirinya. “Kami sedang berjalan ke rumahmu ketika bola api besar itu terbang di atas rumah-rumah.”
“Iya. Tiba-tiba saja ketika kami pulang, ibu sudah tidak ada. Juga ayah. Aku berlari ke rumah sebelah, tapi mereka juga tidak ada. Semua orang di Barat hilang!” lanjut Naim, kemudian ia mulai menangis lagi.
“Shadra, ikuti bola api itu!” tiba-tiba Shadra mendengar suara seorang laki-laki, tapi bukan yang biasa ia dengar. Kali ini suara itu seperti bukan suara orang tua. Suara itu sangat jelas, namun ia tak tahu dari mana asal suara itu. Ia berdiri, melihat, mencari ke semua tempat, tapi ia tak melihat apa apa, ia tak melihat ada yang aneh.
“Ada apa, Shad?” tanya Feryn yang bingung melihat Shadra yang tiba-tiba tampak aneh. sepertinya Feryn, dan juga  yang lainnya tidak mendengar suara itu.
“Ada yang memanggilku. Apa kalian tidak mendengarnya?” kata Shadra, masih mencari-cari di sekelilingnya pemilik suara itu.
“Siapa?” kini Haniew yang bertanya, juga dengan ekspresi kebingungan. “Aku tidak mendengar apa-apa.
“Entahlah, tapi suaranya sepertinya sangat dekat. Di sekitar sini.”
“Ikuti bola api itu, Shadra,” suara itu terdengar lagi oleh Shadra. Makin jelas, namun Shadra masih juga tak bisa mengetahui arah suaranya.
“Siapa kau?” tanya Shadra dengan suara agak keras, berharap pemilik suara itu bisa mendengarnya.
Tiba-tiba dari arah belakang mereka terdengar suara. Kini bukan saja Shadra yang mendengar suara itu. Mereka semua dapat mendengarnya. “Ikutilah arah bola api itu, Shadra, sebelum semuanya terlambat,” kata suara itu.
Mereka semua berbalik ke belakang, dan terkejut melihat sesosok serba putih berdiri di hadapan mereka. Sosok itu sepertinya seorang wanita, tapi bukan, ia bukan wanita. Ia seorang pria. Wajahnya, rambutnya, dan seluruh pakaiannya berwarna putih bersih, tanpa noda sedikitpun, kecuali warna matanya yang biru terang dan jernih. Di lengannya kirinya tergantung sebuah busur panah besar, yang juga berwarna putih. Feryn bangkit berdiri, terkejut atas kehadiran orang itu.
“Aku Melsky,” kata orang putih itu sebelum salah satu dari mereka sempat bertanya. “Aku adalah Manusia Langit yang diutus oleh Tuan Hang dan Ratu Nita Lodiela untuk membantu membebaskan Negeri kalian. Dan aku membutuhkanmu, Shadra,” lanjutnya. Suaranya terdengar begitu tegas.
Mereka semua terperangah, takjub melihat sosok putih itu. Di dalam ketakjubannya, sangat terasa kedamaian yang mereka rasakan. Seolah mereka sedang berada dalam lindungan sempurna seorang peri. Tapi ia belum melakukan apa-apa.
Lalu Shadra tersadar, “mengapa… kau membutuhkan kami –maksudku… aku, dan siapa Tuan Hang dan… dan Lodiela, dan bagaimana kami bisa mempercayaimu?” tanya Shadra pada orang  itu.
Melsky tampak kesal mendengar pertanyaan terakhir Shadra. Lalu dengan kesal pula ia menjawab, “pertama, aku membutuhkan seorang yang pemberani dari negeri yang sedang dikuasai musuh untuk membantuku mengambil Bola Bilx dari tangan Profmustamar,” kata Melsky dengan suara cepat dan dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya. “Dan aku tahu, kalian bertanya, ‘mengapa harus kami?’ maka akan kujawab. Begini, Profmustamar tidak butuh kalian, sebenarnya. Begitu juga aku. Aku tidak butuh kalian! Yang aku butuhkan adalah Shadra. Bukan kalian!
“Kedua, aku memilih Shadra, karena,” lanjutnya, mengarahkan pandangannya ke arah Shadra, ”alasannya, kau adalah yang paling berani di antara teman-temanmu, bahkan di antara semua orang di negeri ini. Juga karena kau pernah bertekad untuk memecahkan misteri ini. Lagi pula, kau adalah pemimpin di sini. Kau bertanggung jawab pada negerimu. Maka, kami memilihmu untuk menyelesaikan masalah ini.
“Ketiga, Tuan Hang itu adalah orang yang mengutusku. Ia juga seorang Manusia Langit tua, pemimpin di negeri kami. Orang yang sangat menyenangkan. Dan suaranya-lah yang sering kau dengar, Shadra. Tapi dasar saja kau bodoh, kau tidak mempedulikan kata-katanya. Sedangkan Ratu Nita Lodiela adalah ratu para peri. Kau akan bertemu dengannya.”
“Bukannya aku tidak mempedulikan suara itu, tapi aku bingung,” kata Shadra membela diri.  “Ucapan sosok itu –maaf, Tuan Hang maksudku- memang susah dimengerti. Tapi, tadi kau menyebut nama Profmustamar, siapa dia?”
“Profmustamar itu seorang juga seorang Manusia Langit, tapi ia sangat jahat,” kata Melsky, menjelaskan kepada mereka. “Dialah yang menyebabkan semua kekacauan ini. Dia dulunya adalah Ketua Dewan Langit. Sementara Tuan Hang, hanyalah anggota Dewan tersebut. Walau pun Tuan Hang itu sakti, Profmustamar tetap saja lebih sakti dari pada dia. Karena sekarang ia memegang Bola Bilx, sebuah benda sakti ciptaan seluruh anggota Dewan Langit yang harus kita rebut. Itu sebabnya, Tuan Hang tidak mampu melawan Profmustamar, bahkan dengan bantuan semua anggota Dewan Langit sekalipun,” kata  Melsky lagi. “Cepatlah, Shadra. Dewan Langit dan Ratu Lodiela membutuhkanmu. Juga negerimu!” tambahnya.
“Jadi, aku harus mengambil Bola Bilx itu dari tangan orang sakti yang jahat? Bagaimana bisa?” tanya Shadra.
“Dengan bantuan kami, tentunya” jawab Melsky. “Bersiaplah, Shadra. Kita akan berangkat besok, pagi-pagi sekali.”
“Tapi, apa sih Bola Bilx yang kau sebut-sebut itu?” tanya Madi, ia sama sekali tidak mengerti dengan orang asing itu.
“Tidak baik jika diceritakan di sini. Akan sangat berbahaya,” jawab Melsky lagi. “Bersiaplah, Shadra. Kita akan berangkat besok, pagi-pagi sekali.”
“Tunggu dulu,” Haniew kini berbicara. Kedua tangannya berada di pinggang, seolah menantang Manusia Langit itu. “Shadra tidak boleh pergi sendiri. Aku –mm.. maksudku, kami- tidak akan membiarkan,” katanya.
“Oh, tentu saja tidak,” jawab Melsky.  “Shadra akan pergi bersamaku. Kami akan pergi bersama. Lagi pula, nanti kami akan bertemu dengan beberapa orang dari negeri kami yang lain yang sudah ditugaskan. Mereka pasti sedang menunggu.”
“Tidak, tidak, tidak! Bukan itu,” kata Haniew lagi. “Maksudku, Shadra tidak akan pergi tanpa kami. Kami akan ikut bersamanya!”
“Benar! Lagi pula, kami semua bisa diandalkan, kok!” tambah Naim, mengiyakan semua perkataan Haniew.
“Iya, benar! Kami ‘gak mungkin biarkan dia pergi kalau kami ‘gak ikut,” kata Madi, ikut membantu. “Lagi pula, kami harus menemukan orang tuaku. Mereka ‘kan hilang,” tambahnya.
Shadra hanya terdiam, begitu juga dengan Feryn. Ia tidak bisa mengambil keputusan. Seolah semuanya tergantung keinginan Melsky, juga teman-temannya.
“Ya, ya, ya, aku mengerti,” kata Melsky dengan nada tenang kepada Naim, Madi dan Haniew. “Tapi perjalanan ini sangat berbahaya, dan kami hanya akan memilih orang  yang tepat. Lagi pula, aku juga tahu, kalian bertiga adalah anak-anak yang hanya bisa menangis, atau terkencing-kencing saat ketakutan. Ya, menurutku itu tidak akan dibutuhkan, dan kalian tahu itu. Ya, ‘kan?” tambahnya dengan nada mengejek, melirik kepada si Kembar.
Akhirnya Feryn yang dari tadi hanya berdiam diri angkat bicara. “Menurutku masalah mereka ikut atau tidak adalah keputusan Shadra. Biarlah dia yang memutuskan, karena dialah yang telah dipilih, apakah dia mau, atau tidak kalau kalian ikut.”
Mendengar perkataan Feryn, Melsky sesaat hanya bisa diam. Namun akhirnya ia berbicara, “yah, apa boleh buat. Mungkin –semoga saja- kau benar,” katanya dengan nada sedikit kecewa. “Sekarang, cepat putuskan, Shadra! Menurutmu mereka sebaiknya diikutkan atau tidak?” katanya lagi sambil duduk dan meletakkan busur besarnya di tanah, menunggu keputusan Shadra.
“Yah, aku tidak ingin teman-teman semua mendapatkan masalah,” kata Shadra, begitu tenang kepada teman-temannya. “Aku juga tidak ingin kalian semua menghadapi bahaya ini. Tapi aku juga memikirkan keselamatan Unmul. Dan aku rasa, Naim dan Madi benar, kalian semua bisa diandalkan. Kalian boleh ikut, tapi, mungkin akan lebih baik jika Feryn juga ikut. Aku rasa aku akan sangat membutuhkannya.”
Haniew langsung melompat-lompat girang mendengarnya. Naim dan Madi sudah saling berpelukan.
“Yah, baiklah, jika itu keinginanmu –keinginan kalian, maksudku. Aku tidak bisa melarang. Tapi jangan salahkan aku, dan jangan merengek-rengek atau menangis kalau ada monster yang mengejarmu,” kata Melsky dengan sedikit kecewa, memperingatkan mereka, berbalik, membelakangi anak-anak itu.
Kata-kata Melsky tidak membuat mereka merasa takut. Senyum lebar malah terlihat jelas di wajah-wajah mereka. Mereka akan menjalani serangkaian petualangan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Walau bahaya yang juga tidak pernah mereka bayangkan, mungkin menunggu di ujung jalan sana.
“Besok, pagi-pagi sekali kita berkumpul di sini. Dan jangan terlambat!” kata Melsky, kemudian menghilang.

Perjalanan ke Kaft

Hari berikutnya, di pagi yang sudah ditentukan, mereka semua harus berkumpul.di punggung bukit, di tempat yang sudah mereka sepakati. Hawa dingin menusuk hingga ke tulang, namun sebentar lagi pasti akan berubah menjadi sangat panas sekali.
Feryn dan Haniew yang pertama kali tiba di tempat itu. Mengenakan jaket tebal untuk menahan hawa dingin pagi ini.
Naim dan Madi datang kemudian dengan perlengkapan paling banyak. Mantel hujan, kantong tidur, dan sejumlah bekal makanan di dalam ranselnya yang besar.
Kemudian disusul Shadra yang datang sendirian dengan sebuah ransel kecil di punggungnya.
Melsky datang paling akhir, setelah semuanya lelah menunggu. Ia masih berpakaian putih, seperti kemarin, lengkap dengan busur besar dan anak panahnya di punggung dan lengannya.
“Sebaiknya kita tidak usah membuang-buang waktu, atau kita akan sangat terlambat,” katanya, seolah dialah yang paling awal tiba di tempat itu. “Negeri kalian tidak mau menunggu lebih lama untuk diselamatkan,” lanjutnya lagi.
“Ke mana kita akan pergi?” Tanya Haniew.
“Menuju bahaya, tentu saja,” jawab Madi. Tapi ucapannya tidak dihiraukan oleh Haniew.
Melsky mencabut sebatang anak panah dari tabungnya di punggungnya. Ujung anak-panah itu bersinar terang. “Lihat ini,” katanya. Lalu ia duduk, mengarahkan ujung anak panahnya di permukaan tanah, dan  dengan ujung anak panah itu ia mulai menulis. Oh, ternyata bukan. Ia bukan menulis. Tapi ia sedang menggambar sesuatu. Semuanya takjub melihat keajaiban itu, kemudian ketika ketakjuban mereka hilang, mereka memperhatikan apa yang dilakukan Manusia Putih itu dengan seksama.
“Apa itu?” tanya Shadra.
“Sekarang kita berada di sini,” jawabnya singkat atas pertanyaan Shadra, sambil terus menggambar dengan ujung anak panahnya. Tampaknya itu sebuah peta.
“Oh! Itu Unmul!” seru Madi setelah ia mengerti sedikit apa yang digambar oleh Mesky di tanah –akhirnya-.
“Ya, benar,” kata Melsky lagi. Lalu ia menarik garis berliku-liku, lalu seperti menggambar sebuah perbukitan, garis berliku lagi, sebuah titik, kemudian garis melengkung, lalu kemudian ia menggambar sebuah titik lagi. Lama ia berkonsentrasi pada gambarnya. Hingga akhirnya ia berhenti. “Ah, akhirnya selesai,” katanya.
“Itu peta perjalanan kita nanti?” Tanya Feryn .
“Ya, benar,” jawab Melsky, sambil mengambil segenggam pasir. Pasir itu ditaburkannya di atas peta yang ia gambar tadi. Sesuatu yang ajaib lagi-lagi terjadi. Garis yang ia buat tadi menjadi sebentuk jalanan kecil; gambar perbukitan tadi menjadi gambar timbul, membentuk kontur bukit-bukit kecil di atas tanah. Juga gambar sekumpulan pohon-pohon mati di tepi-tepi jalan kecil membentuk hutan mini yang rusak. Begitu nyata.
“Kuharap kalian sebisanya menghapalkan ini. Ini tempat kita berada sekarang,” katanya, sambil menunjuk pada miniatur itu satu titik yang mirip dengan punggung perbukitan, kemudian ia menggerakkan jarinya mengikuti jalur yang berkelok-kelok –jalanan-, menembus sisa-sisa hutan yang rusak. Dan sinar terang terlihat mengalir perlahan mengikuti jalan berkelok-kelok yang telah dilalui oleh jarinya tersebut. Sinar itu berhenti tepat setelah jarinya berhenti di satu titik yang lain di ujung jalur berkelok. “Desa Kaft, cukup jauh, kurasa. Mungkin kita baru bisa tiba di sana sekitar besok sore, atau malam hari. Di sana kuharap kita bisa bertemu peri gunung yang sudah diutus oleh Tuan Hang. Di Kaft kita bermalam. Lalu pagi-pagi sekali kita berangkat lagi. Ke sini,” katanya lagi, sambil menunjuk titik lainnya di ujung jalan berikutnya di arah selatan. Cahaya kembali mengalir di jalan yang menghubungkan dua titik itu, melewati pegunungan, dan berhenti lagi di satu titik yang lain, seperti sekumpulan hutan yang luas, hutan bambu.
“Desa Bambu!” kata Melsky lagi. “Tidak begitu jauh dari Kaft. Tapi jalan yang akan kita lalui pasti akan sangat sulit. Kita akan memutar di beberapa jurang dan menyeberangi sungai kecil.” Lalu ia mengangkat jarinya dari miniatur tersebut. Sinar yang mengikuti jarinya tadi kemudian menghilang, miniatur yang ia buat itu pun perlahan menghilang, dan berubah menjadi tanah biasa lagi. “Di sana kita baru melihat peta ini lagi. Jadi, kuharap kalian semua sudah menghapalkannya, sebisanya! Mengerti?”
“Tentu saja,” kata Naim dengan angkuh. “Pertama kita  berjalan dari sini, menuju ke Kaft –Desa Kaft, maksud saya, lalu menginap semalam di sana, kemudian esok harinya kita melanjutkan perjalanan yang melelahkan ke Desa Bambu. Mudah sekali!” lanjutnya, seperti meremehkan.
“Bagus!” kata Melsky menaggapi perkataan Naim tadi. “Kalau begitu, kalian sudah mengerti, jadi kita berangkat sekarang, atau kita akan kehilangan banyak waktu,” lanjutnya. Kemudian ia mengambil sesuatu dari kantong pakaiannya. Sesuatu berwarna putih.
“Makan ini,” katanya, sambil menyerahkan benda itu kepada anak-anak. “Licova, makanan para Manusia Langit. Sedikit, tapi akan memberi kalian kekuatan, dan membuat kalian tidak merasa lapar dan haus dalam beberapa hari.”
Mereka mengambilnya, dan Madi yang pertama memakannya . “’nak,” katanya dengan licova masih berada di dalam mulutnya. “Dingin, seperti mint,” katanya lagi, licova masih juga berada di mulutnya. Kemudian semua yang lainnya memakan licova itu, dan seketika itu pula mereka merasa jauh lebih segar, dan lebih kuat dari sebelumnya. Bekal makanan yang dibawa si Kembar tampaknya bakal tidak habis dimakan selama perjalanan ini.
Lalu mereka memulai perjalanan. Berjalan ke Barat, menuju pemberhentian pertama, Kaft.

Dipimpin oleh si Manusia Langit Melsky, Shadra, Haniew, Feryn, serta si Kembar Naim dan Madi memulai perjalanan mereka hari itu. Udara dingin pagi hari itu kini sudah menjadi lebih hangat. Dan sebentar lagi, udara pasti akan terasa sangat panas. Untuk itu, mereka harus berjalan lebih cepat agar lebih cepat sampai di hutan untuk berteduh.
Tengah hari terasa datang sangat cepat kali ini. Udara sudah terasa sangat panas. Tapi hutan untuk berteduh masih sekitar dua mil lagi. Kini mereka baru berjalan beberapa mil. Dan baru berada di hamparan sisa-sisa padang rumput yang rusak berat. Tidak sebatang pun pohon yang berdiri di sini, bahkan sebatang rumput yang masih hijau. Tidak ada tempat utuk menahan hawa panas yang begitu menyengat.
“Cepatlah!” teriak Shadra pada si kembar yang sudah tertinggal jauh di belakangnya.
“Sudah kubilang, mereka hanya bisa menyusahkan,” kata Melsky yang berjalan di depan bersama Shadra, ucapannya pelan, namun masih cukup keras hingga masih bisa dengar oleh Shadra yang berjalan di sampingnya.
Shadra hanya bisa diam mendengar keluhan peri itu. Namun ia terpaksa harus berhenti sejenak untuk menunggu teman-temannya yang tertinggal. Ia duduk di tengah terik, lalu Melsky terpaksa ikut duduk bersamanya.
Haniew dan Feryn yang baru bisa menyusul keduanya juga ikut duduk di tempat itu. Mereka semua duduk di atas rumput yang terbakar, menghadap ke arah belakang, ke arah si kembar yang begitu lambat berjalan.
“Hei, Orang aneh cerewet, tidak bisakah kau sedikit mengurangi panasnya hari ini?” tanya Haniew yang terlihat sangat kelelahan. Keringat membasahi seluruh wajahnya.
“Jangan cengeng!” jawab Melsky. “Keahlianku bukan itu.”
“Jadi, apa yang kau bisa?” tanya Haniew lagi, sementara si kembar masih bersusah payah berjalan ke arahnya.
“Yah, keahlianku hanya menggunakan panah dan busur ini, mungkin,” jawab Melsky, sambil menunjukkan busurnya. Kemudian ia tiba-tiba berdiri, menghadap ke satu titik, ke arah datangnya Madi dan Naim. “Tampaknya keahlianku akan segera kutunjukkan,” katanya lagi seraya mengangkat mantap busur besarnya. Sebatang anak panah sudah terpasang di tempatnya di busur itu, lalu diarahkannya posisi tembakan ke arah si Kembar Madi dan Naim! “Bersiaplah, Teman-teman! Kita kedatangan tamu!”.
Feryn, Haniew dan Shadra yang berada di dekatnya tidak mengerti sama sekali apa yang dikatakan Melsky, dan mengapa dia mengarahkan tembakannya kepada si Kembar.
“Hei!! Apa maksudmu?! Jangan tembak dia! Hei!!” Shadra berteriak. Haniew dan Feryn sudah sangat tegang di sampingnya.
Tiba-tiba,
“Cepat lari!!!” teriak Melsky kepada si Kembar. Dan, seketika itu pula, kilatan terang terlihat bergerak cepat dari busur sang peri, diikuti suara desingan anak panah. Ia sudah melepaskan tembakan! –ke arah si Kembar.
Haniew berteriak sekeras-kerasnya. Feryn dan Shadra terlambat menghalangi tembakan Melsky. Si kembar sudah tersungkur di tanah.
Kemudian Feryn dan Shadra berlari ke arah si kembar, dan berhenti tepat di samping keduanya yang tertelungkup di tanah. Mereka semua berada dalam ketakutan yang sangat besar.
Melsky berjalan ke arah mereka. Anak panah kedua sudah berada pada posisinya., tampak mengancam.
“Apa yang kau lakukan?!! Kau menipu kami!!!” Shadra berteriak kepada Melsky.
Melsky tidak menjawab pertanyaan Shadra, kemudian ia menarik anak panahnya lagi, mengarahkannya ke bawah, ke arah si kembar yang tak tertelungkup tak bergerak di tanah.
Sinar terang yang bergerak cepat dari busurnya kembali terlihat, diikuti suara desingan. Ia sudah menembakkan anak panahnya lagi. Anak panah tertancap di tanah, tepat di antara Naim dan Madi. Shadra terbelalak melihatnya. Anak panah itu tidak mengenai si kembar.
Lalu tiba-tiba sesosok hitam besar terlihat terkapar di atas punggung si kembar. Shadra berani bersumpah, ia tidak melihatnya sebelumnya.
Makhluk itu bersayap lebar, hitam legam dan berkuku tajam di kedua ujungya. Sayapnya yang lebar itu terlihat seperti tidak sesuai dengan tubuhnya yang lebih kecil. Di dahinya berdiri sebuah tanduk besar. Dua buah gigi taring besar di mulutnya berlumuran oleh darahnya sendiri.
“Sparrex,” kata Melsky singkat. “Mereka berada di bawah kekuatan jahat,” lanjutnya. “Sebaiknya kalian urus si kembar tak berguna ini. Kita tidak mungkin melanjutkan perjalanan sebelum mereka siuman.”

Hari sudah sore namun udara masih sangat panas ketika Naim siuman. Madi sudah siuman beberapa saat sebelumnya. Ketakutan masih terlihat jelas di wajah keduanya.
“Kita harus mulai berangkat lagi,” kata Melsky.
“Apa!? Tapi Naim baru saja siuman! Ia butuh istirahat sebentar,” protes Haniew. Sepertinya ia masih belum bisa melupakan tindakan mendadak Melsky yang membahayakan jiwa si Kembar tadi.
“Ia sudah istirahat sewaktu pingsan tadi,” kata Melsky
“Naim,” kata Feryn, mencoba memotong perdebatan Haniew dan Melsky untuk menenangkan suasana, “Apa kau sudah siap berjalan lagi?” tanyanya dengan nada lembut.
Naim diam sebentar, kemudian menjawab, ”yah, aku capek, sih. Tapi kurasa ia. Lagi pula, Kaft masih jauh. Kita harus bergegas.”
Lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan. Haniew berjalan dengan langkah berat, masih kesal dengan Melsky. Kini Naim dan Madi berjalan lebih cepat. Mungkin karena takut para Sparrex akan mencoba menangkapnya lagi.

Senja hampir tiba, mereka kini sudah sampai di hutan. Cahaya remang-remang matahari menembus lemah ke dalam hutan. Hutan ini rusak parah. Hampir semua pohon yang berdiri hanyalah batang-batang kayu kering tanpa satupun daun di ranting mereka yang juga kering.
Remaja-remaja itu membayangkan negeri mereka akan mengalami kehancuran seperti yang dialami hutan ini. Dan mereka tahu, sekarang Unmul sedang menuju ke arah itu.
“Inikah negeri pertama –sebelum Unmul?” Shadra bertanya pada Melsky yang berjalan paling depan.
“Bukan, ini bukan negeri yang pertama dirusak sebelum Unmul. Hutan ini masih bagian dari Unmul. Hanya saja bencana belum begitu sampai ke pusat negeri,” jawabnya.
“Hutan yang sangat besar. Pasti dulunya sangat indah,” kata Feryn.
“Ya, kau benar,” kata Melsky sambil terus memimpin mereka berjalan menyusuri jalan yang menembus hutan rusak yang rusak. “Asal kalian tahu saja, negeri kalian adalah negeri manusia yang paling indah di dunia. Selain di negeri kalian, tempat yang seperti itu hanya ada di negeri para peri dan Kerajaan Langit.” Lalu semua diam. Dan mereka terus berjalan menyusuri jalan yang makin gelap.

Hawa dingin menyerang mereka. Malam telah tiba ketika mereka sudah berada di tengah hutan. Malam sangat cerah. Sinar bulan dapat dengan mudah menembus masuk ke dalam hutan melalui celah-celah pohon tak berdaun itu.
Mereka terus berjalan menyelusuri jalan gelap di antara pohon-pohon mati yang makin merapat. Malam semakin larut, dan kini langit tak lagi cerah. Awan kelabu mulai menutupi sinar bulan yang menyinari jalan mereka. Makin lama makin gelap. Sinar bulan kini benar-benar tertutup. Gelap sekali sekarang.
Beberapa anak sudah mulai berjalan sambil terhuyung-huyung. Dan Naim sudah mulai tertinggal di belakang. Yang lain terpaksa memperlambat jalannya agar Naim dapat segera menyusulnya.
“Ini sudah malam sekali. Aku sudah tidak bisa berjalan lagi. Ngantuk!” katanya setelah berhasil menyusul yang lain.
“Ya, kurasa kali ini kau benar. Mungkin kita sebaiknya istirahat dulu malam ini,” Melsky berkata pada anak-anak itu. “Terus berjalan di malam hari yang gelap seperti sekarang hanya akan membahayakan diri kita. Para Sparrex dapat menangkap kita dengan mudah,” lanjutnya. Si kembar bergidik ngeri mendengar Melsky menyebut nama Sparrex. Keduanya tampaknya masih sangat trauma dengan makhluk itu.
Rombongan kemudian mulai mendirikan tenda di tempat terbuka yang lebih tinggi agar dapat dengan mudah mengetahui kedatangan makhluk lain.
“Sebaiknya kita menyalakan api. Sparrex akan sangat sulit dilihat dalam gelap. Oleh kami para manusia langit sekalipun. Lalu kita akan bergantian jaga malam ini,” kata Melsky setelah tenda kecil yang mereka dirikan sudah jadi.
Shadra dan Haniew yang mendapat giliran pertama jaga malam ini.
“Jika kalian mencurigai sesuatu, bangunkan aku,” kata si peri kepada mereka berdua. “Gunakan ini. Segera bangunkan aku jika benda ini bercahaya. Itu artinya, sesuatu yang berniat buruk sedang mendekat,” katanya lagi, melempar sebilah batang kecil kepada Haniew..
Haniew menerimanya, lalu mengamatinya dengan diam.
“Woodtector, sangat berguna di malam hari,” kata Melsky.
Haniew menyerahkan Woodtector itu kepada Shadra. “Biar kau saja yang pegang. Mungkin kau bisa lebih awas daripada aku,” katanya. Lalu Shadra mengambilnya, tidak bicara apa-apa lagi.
Shadra dan Haniew berjaga di luar, sementara yang lain sudah terlelap di tenda. Melsky memilih tidur di luar, bersandar di pohon mati yang masih berdiri. Matanya terpejam, namun Shadra yakin, ia tidak tidur.
Malam terus berlanjut. Haniew sudah tidur, meninggalkan Shadra berjaga sendirian. Sudah lewat dua per tiga malam. Sudah tiba tiba waktunya baginya istirahat. Kini giliran Feryn dan Naim yang berjaga. Shadra harus membangunkan keduanya. Tapi baru saja ia hendak masuk ke tenda untuk membangunkan mereka, Woodtector tiba-tiba bercahaya! Sesuatu yang jahat mendekat!
Shadra memperhatikan sekeliling, tidak terlihat apapun. Tapi Woodtector bersinar makin terang! Sesuatu yang jahat pasti makin mendekat! Waktunya membangunkan Melsky.
Ia beralih ke tempat Melsky tadi tidur, di pohon di samping tenda.
Dan belum saja Shadra sampai di tempat itu, tiga suara anak panah berdesing keras, bersamaan dengan terlihatnya tiga sinar melintas tepat tiga senti di samping wajahnya. Dan… “Aaarrgghhh..!!!!” suara raungan keras terdengar sangat mengerikan menyusul bunyi desingan dan sinar tadi.
Shadra melihat lurus ke depan, Melsky sudah berdiri tegak, busur besar di tangannya. Dan di sekitar mereka tiga sosok Sparrex terkapar di tanah, masih meraung-raung kesakitan. Tiga anak panah menancap tepat di dada, perut dan lehernya.
“Apa yang terjadi?!” suara Feryn terdengar dari arah tenda di belakang Shadra. Semua anak-anak terbangun, kecuali Madi. Semua tampak terkejut mendengar suara raungan tadi. Dan makin terkejut begitu mereka maju ke sisi Shadra, dan melihat sosok-sosok Sparrex terkapar di tanah.
Melsky maju, sambil mencabut tiga anak panah lagi dari tabung pelurunya. Sekarang ia tepat berdiri di sisi Sparrex-sparrex yang terkapar. Ia kemudian memasang tiga anak panah sekaligus di busurnya, kemudian menariknya dan mengarahkan tembakan busurnya ke bawah, ke arah para Sparrex. Dan tiga sinar terang melesat diiringi desingan cepat! Haniew terpekik kaget, semetara Sparrex-sparrex itu sudah tidak bersuara lagi, mati!

Mereka menjalani sisa malam itu dengan gelisah. Mereka khawatir Sparrex akan menyerang lagi. Tapi Woodtector tidak bersinar lagi sepanjang sisa malam.
Hanya si kembar yang bisa tidur lelap setelahnya, sementara yang lain hanya tidur sedikit di saat fajar, sedangkan Melsky tidak tidur sama sekali.

Pagi yang dingin dan lembab datang mengganti malam yang menegangkan. Feryn bangun paling awal dibanding anak-anak yang lain –kecuali Melsky yang tak tidur malam itu. Sparrex masih ada di tempatnya semalam, bangkainya mulai mengeluarkan bau yang tak sedap.
Setelah semuanya bangun, mereka berkumpul di dalam tenda, menghangatkan diri dengan selimut tidur mereka.
Udara pagi terasa sangat dingin. Begitu dinginnya hingga membuat mereka terdiam, karena rahang mereka seperti terkunci beku kedinginan. Hingga akhirnya Haniew berbicara, “Melsky, ceritakan pada kami tentang makhluk-makhluk aneh yang berbahaya, seperti Sparrex, misalnya” katanya, dengan gigi berbunyi gemeretak.
“Banyak sekali makhluk seperti Sparrex,” jawab sang Melsky. “Apalagi setelah masa-masa sulit seperti bencana-bencana ini. Itu karena mereka dijadikan senjata untuk melancarkan bencana. Mereka juga bisa dikatakan sebagai bencana itu sendiri.
“Di wilayah utara, di hutan dekat Rolba, banyak sekali Pseloiga. Sejenis kera, namun mereka sangat ganas, dan mereka adalah monster yang cerdas. Mereka sebagian sudah menyebar ke arah barat, ke daerah Rolbadoir. Semoga saja kita tidak melewati daerah itu. Kudengar Rolbadoir kini sudah hancur oleh serangan para Pseloiga.
“Ah, lebih baik kita melanjutkan perjalanan sebelum terik,” lanjutnya, menghentikan ceritanya. Dan memang benar, tanpa mereka sadari sebelumnya, udara sudah tidak dingin lagi. “. Tidak akan lama, kurasa. Kita sudah melalui lebih dari setengah perjalanan menuju Kaft”

Mereka sudah keluar dari hutan saat terik panas sudah sangat menyengat kulit mereka. Mereka berjalan berbaris rapat. Shadra paling depan, dan Melsky berada paling belakang agar bisa melindungi yang lainnya dari bahaya.
“Setelah melewati tiga bukit besar di depan, mungkin kita akan segera sampai di gerbang Kaft.. Cepatlah!” katanya.

Di Rumah Droke

Tidak ada yang terjadi di sisa perjalanan mereka. Matahari sudah mulai rendah dan cahaya senja sudah mulai muncul ketika mereka sampai di sebuah gerbang besar dengan pagar tinggi memanjang di sisi-sisnya.
Gerbang itu tertutup dua buah daun pintu kayu yang besar dengan dua buah lubang sebesar wajah manusia di tengah kedua daun pintunya. Seorang laki-laki duduk tertidur di sebuah gardu di atas gerbang. Mungkin dia penjaga gerbang itu.
Ia terbangun dengan terkejut ketika Melsky mengetuk gerbang dengan keras. Sepertinya pria itu marah karena tidurnya di senja itu terganggu.
Melsky berteriak pada penjaga itu. “Kami ingin masuk!” katanya. “Kami butuh penginapan untuk satu malam. Tidak mungkin kami berjalan di luar saat malam!”
Pria itu membalas dengan teriakan. “Siapa kalian dan apa mau kalian?!”
“Dasar bodoh!” balas Melsky lagi. “Bukankah sudah kukatakan, kami tidak mungkin berjalan di luar saat malam! Kami butuh penginapan!”
“Jangan mengataiku bodoh, orang aneh! Atau kau akan tetap berada di luar, dan tidur bersama hewan buas,” balas pria itu lagi. Lalu ia turun ke balik gerbang. Tidak lama kemudian bunyi kretekan engsel pintu keras terdengar. Gerbang itu terbuka sedikit di tengahnya.
“Oh, syukurlah,” kata Haniew pelan setelah gerbang itu terbuka sedikit. Lalu satu per satu dari mereka mulai melangkah maju untuk masuk. Baru saja Melsky, yang paling depan hendak masuk, pria penjaga itu  memunculkan kepalanya dari dalam gerbang. “Tunggu dulu, kalian tidak boleh seenaknya saja masuk!” kata pria itu kemudian. “Kalian harus bayar, karena kalian telah mengganggu tidurku, dan karena orang aneh ini telah mengataiku dengan sebutan ‘B’… Bodoh!” katanya sambil melirik dan tersenyum licik kepada Melsky. Kata bodoh diucapkan dengan penekanan yang bernada licik.
Melsky tampak sangat marah. Tapi ia malah tersenyum pada pria itu, lalu mengambil tiga keping koin perak dari kantongnya.
“Ini,” katanya singkat sambil menyerahkan koin-koin itu. Ia masih tersenyum.
Pria itu balas tersenyum, namun tampak lebih licik. Lalu menerima koin-koin itu.
“Terimakasih, orang aneh” katanya, lalu membuka pintu lebih lebar.
Shadra masuk lebih dulu, melewati penjaga licik yang berdiri di bawah gerbang, disusul kemudian oleh Feryn dan yang lainnya.
Kemudian Melsky masuk paling belakang. Ia melewati gerbang, “kurasa mungkin sebaiknya Droke, temanku tahu hal ini. Anak buahnya memungut bayaran dari para tamu,” katanya saat ia tepat berpapasan dengan pria penjaga yang licik itu di dalam, di bawah gerbang.
Penjaga itu terbelalak mendengar Melsky menyebut nama Droke. “Ambil kembali uang ini. Tapi jangan kau beritahu ini pada Droke. Ia bisa mengusirku… Tolong. Anggap saja kita tidak pernah bertemu,” katanya. Suaranya tampak memohon.
Melsky dengan senyum cuek, tapi dengan perasaan menang, menanggapi permohonan orang itu. “Ow, mengusirmu? Aku rasa ia bisa saja memenggalmu, kalau aku yang meminta,” katanya.
“Kumohon, jangan lakukan… kumohon,” katanya lagi, sambil menyerahkan koin-koin yang tadi ia terima. Koin itu bertambah banyak, menjadi enam atau tujuh keping. Tampaknya pria itu sudah menambahkannya. Mungkin untuk menyogok Melsky yang mengancamnya.
“Baiklah, terimakasih,” kata Melsky., menerima koin-koin itu, lalu berbalik pergi, masuk ke dalam desa.
“Siapa Droke? Mengapa ia menjadi seperti ketakutan setelah mendengarmu menyebut namanya?” Tanya Shadra sambil terus berjalan.
“Dia pemimpin di desa ini. Aku kenal dia sudah lama. Dia juga Manusia Langit, sebenarnya. Tapi  ia lebih memilih tinggal di dunia manusia. Ah, dia pasti bisa banyak membantu.”
Lalu mereka terus berjalan, makin masuk ke dalam desa. Desa ini lebih kecil dibandingkan dengan Unmul. Juga tidak lebih indah dibandingkan negeri mereka beberapa tahun yang lalu. Tapi, kini desa ini terlihat jauh lebih baik dari Unmul, karena mungkin di sini tidak ada bencana aneh yang melanda. Tidak terlalu jauh di depan, atap-atap rumah sudah terlihat dalam cahaya remang-remang senja desa Kaft.

Melewati dua rumah di Desa Kaft, senja makin gelap, malam sudah benar-benar dating kini, seiring dengan rasa dingin yang terasa di kulit mereka, namun sedikit lebih hangat daripada di hutan tempat mereka tidur semalam. Kini mereka sudah tiba di depan sebuah rumah batu. Dibanding dengan rumah-rumah di sekitarnya, rumah ini adalah yang paling besar, yang paling indah dan paling banyak berisi ornamen-ornamen hiasan pada dinding luarnya.
Rumah itu adalah rumah milik Droke. Seorang pria menunggu di depan pintunya. Tubuhnya tinggi, kekar, wajahnya terlihat keras, tulang wajahnya terlihat jelas seperti ukiran pahatan kayu.
“Selamat datang di Kaft, Melsky sahabat putihku,” sapa pria itu. Dibalik wajahnya yang keras dan tegas, ternyata ia memiliki sikap yang ramah. Senyuman mengiringi langkahnya mendekati Melsky, yang juga maju mendekatinya.
Tapi tiba-tiba ia mengernyitkan dahi, kemudian memasang wajah masam ketika ia berhadapan dengan Shadra.
“Oh, ini anak yang diramalkan Dewan Langit itu?” katanya sinis. “Kuharap ramalan itu salah. Aku yakin dengan ramalan itu, tapi aku tidak merasa yakin dengan anak ini.”
Shadra diam saja melihat sikap Droke ketika berhadapan dengannya. Shadra bertanya-tanya dalam hati, apa maksud Droke dengan ramalan, dan mengapa sepertinya ia tidak yakin. Yakin terhadap apa, ia masih bingung. Sementara Melsky mencoba mencairkan suasana.
“Lebih baik kita ke dalam. Bukankah kau ingin agar kami menginap di rumahmu?” katanya. Dan mereka semua masuk satu per satu. Naim paling akhir.
Semuanya –kecuali Melsky- terkagum-kagum melihat ruangan di dalam rumah Droke, ketika mereka berada di dalam. Di setiap sudut dihiasi ukiran-ukiran kayu dan perak; lukisan unik menghiasi dinding batunya yang dicat hijau; lantainya dilapisi karpet bulu yang tebal dan hangat.
Rasa dingin angin malam di luar kini lenyap, berganti dengan udara hangat yang keluar dari perapian di tepi ruangan tengah. Mereka berkumpul di situ, di meja dekat perapian. Droke sedang tidak berada di ruangan itu.
“Kau tidak bilang bahwa kita akan menginap di sini malam ini, ‘kan?” tanya Haniew pada Melsky dan Shadra. ”Kurasa ini bukan penginapan.”
“Ya, memang benar, tapi kemarin saat berada di hutan, ketika kalian sedang tidur, Tuan Hang menyuruhku untuk datang kemari. Droke akan banyak membantu kita.”
“Jadi, akan ada perubahan rencana?” tanya Feryn kali ini.
“Kemungkinan ada,” jawab Melsky. “Sedikit.”
“Apapun rencanamu, kuharap kita akan disuguhi makan malam yang lezat malam ini. Aku baru sadar, ternyata aku sudah tidak makan dan minum selama dua hari. Oh, biasanya aku sudah tidak tahan,” kata Naim dengan cepat. Dan perkataannya menyadarkan semuanya bahwa mereka sama sekali tidak pernah merasa lapar sejak memakan sedikit licova di punggung bukit dua hari yang lalu. Licova benar-benar sudah membantu mereka.
Dan benar saja, salah satu pelayan di rumah Droke sedang berjalan ke arah mereka dengan membawa sebuah nampan besar berisi hidangan makan malam yang lezat.
Malam itu adalah makan malam yang pertama kali sejak mereka meninggalkan Unmul. Sangat lezat tentunya, semua makan malam pertama pasti akan terasa lezat.

Mereka telah menyelesaikan makan malam mereka. Api di perapian sudah mulai redup. Shadra menambahkan kayu bakar di atasnya, agar api dapat tetap menyala.
Melsky, Shadra, Haniew, Feryn dan si Kembar berkumpul di meja dekat perapian.
“Kemana kita setelah ini?” Tanya Shadra pada Melsky.
“Kita tidak akan pergi kemana-mana lagi. Kita langsung berangkat dari sini, menuju dewan peri, tidak lagi ke Desa Bambu,” jawab Melsky.
Mereka semua kaget mendengarnya. “Tapi kau mengatakan kalau kita akan pergi ke Desa Bambu setelah ini. Kau membohongi kami!” kata Haniew, tampaknya ia marah.
“Mungkin akan lebih baik kalau kita langsung saja berangkat dari sini. Memang akan lebih lambat, kurasa, tapi akan sangat menghemat tenaga kita. Kita menginap di sini selama dua malam. Besok kita bertemu dengan salah satu peri lain yang ditugaskan mengantar kita ke Dewan Langit.
“Apa?! Peri?! Wow!” seru Naim. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu peri.
“Baiklah, kalau begitu, kurasa kita bisa tidur sekarang. Aku ngantuk sekali,” kata Madi dengan suara pelan. Sangat lelah, sepertinya.
“Tunggu, tunggu dulu,” kata Melsky. “Ada yang harus aku sampaikan.”
“Apa? Cepatlah! Aku sudah sangat ngantuk!” kata Madi lagi, sangat tidak sabar.
“PERGILAH TIDUR!” Melsky membentak Madi. Sepertinya ia sangat marah sekarang. “Aku tidak pernah menyuruhmu untuk ikut. Tapi, karena kau sudah memaksa, maka kau harus mengikuti apa yang harus aku katakan. Pergilah tidur jika kau mau. Tapi aku bisa pastikan, kau tidak akan pernah bangun lagi setelah itu.”
Madi takut sekali mendengar kata-kata Melsky yang marah. Yang lain juga merasa takut sekali. Tampaknya ada sesuatu yang sangat penting yang ingin disampaikannya.
“Baiklah,” Melsky mulai berbicara dengan nada yang lebih tenang. “Kalian sebagai harapan kelangsungan negeri kalian harus mengetahui hal ini. Aku tidak menjelaskannya saat masih di Unmul, karena aku pikir tidak aman jika aku mengatakannya di luar sana.
“Ratusan tahun yang lalu, “ lanjutnya, ia sudah bisa mengontrol emosinya sekarang. “Bangsa peri dan Bangsa Langit adalah bangsa yang menguasai seluruh dunia. Mereka adalah makhluk yang memiliki kekuatan besar. Manusia hanyalah makhluk lemah yang kekuatannya jauh di bawah kekuatan peri. Hingga suatu waktu, dua puluh tahun yang lalu, Dewan Langit meramalkan bahwa akan ada seorang manusia yang lahir di sebuah negeri yang tersembunyi. Ia akan jadi pemimpin di usia muda. Kekuatan yang dimilikinya setara dengan kekuatan para peri. Tidak akan ada peri yang dapat membunuhnya, juga Manusia Langit.”
“Jadi… Oh, jangan main-main. Itu tidak mungkin,” kata Shadra. Ia tampak tidak percaya dengan ucapan Melsky tadi. Tapi ia mengerti bahwa orang yang dimaksud Melsky. Yang diramalkan itu pasti adalah dirinya.
Tiba-tiba Droke, yang dari tadi tidak ada di ruangan itu bersama mereka, masuk. Ia berdiri di depan pintu. Tapi kini ia memegang sebuah busur, dan mengarahkan tembakan yang tajam ke arah Shadra. Tatapannya tajam, dan kejam. Wajahnya terlihat marah, tapi yang lain tidak tahu mengapa ia bisa begitu –bahkan Melsky ikut terkejut. Ia lama mengarahkan tembakannya tepat ke arah Shadra, yang kini diam tak bergerak. Ia benar-benar tersudut sekarang. Dan semua yang berada dalam ruangan itu diliputi ketegangan.
“APA KAU TIDAK PERCAYA?!!” kata Droke, marah. Suaranya serak, dengan nada membentak. “Baiklah, akan aku buktikan!”
Desingan anak panah terdengar. Ia sudah menembakkannya. Shadra reflek melipat kedua tangannya di depan wajahnya, mencoba menangkis tembakan Droke. Haniew dan Feryn yang berada di kedua sisinya terpekik kaget. Mereka berteriak keras, sementara si Kembar melompat mundur, terjatuh ke lantai.
Shadra perlahan mencoba melepaskan kedua tangannya –ia masih mampu. Ia tidak terluka sama sekali. Tidak ada bekas anak panah di tubuhnya. Bahkan ia merasa anak panah Droke tidak menyentuhnya. Padahal jelas sekali Droke tadi menembaknya. Bahkan Melsky melihatnya.
Haniew terdiam, begitupun Feryn. Tapi mereka masih bergetar, masih ketakutan. Si Kembar masih di lantai, berpelukan.
“Apa kau masih meragukannya?!” kata Droke. “Jangan main-main dengan peri dan manusia langit!” katanya lagi. Suaranya serak dan berat. Wajahnya terlihat sangat mengerikan bagi Shadra.
Shadra tidak berkata apa-apa. Hanya memperhatikan teman-temannya yang gemetar ketakutan. Si Kembar kini sudah kembali ke tempat duduknya. Droke menjatuhkan busurnya di lantai. Kini ia duduk bersama mereka.
Mereka mencoba meredakan ketegangan dengan berdiam sebentar. Akhirnya Mesky mulai berbicara lagi.
“Jadi, kurasa sekarang kau sudah mengerti,” katanya. “Bahkan anak panah Droke tidak menyentuhmu sama sekali.” Suaranya terdengar sangat tenang sekarang.
Shadra masih saja diam. Teman-temannya memperhatikan. Haniew belum berhenti merasa takut. Ia masih shock.
Akhirnya Feryn berbicara. “Jadi, maksudmu, Shadra yang akan mengalahkan Profmustamar?” tanyanya. “Ah, kalian hanya mengetahui bahwa Shadra tidak akan mati oleh peri dan manusia langi. Itu artinya, ia juga tidak akan mati di tangan Profmustamar. Tapi bukan Profmustamar yang akan membunuhnya. Ingat, pengikut orang itu sangat banyak, dan mereka bukan Cuma per dan manusia langii. Ingat itu!” katanya lagi. Analisanya kini membuat Melsky dan Droke membutuhkan waktu lama untuk berfikir. Tapi akhirnya Melsky kembali menjelaskan.
“Ya, kau benar. Itu sebabnya, kami ada bersamanya dalam perjalanannya. Kami ditugaskan melindunginya. Sampai bisa berhadapan dengan Profmustamar,” katanya.
“Apa?!” kata Haniew, dengan suara keras. Kini ia marah bercampur sedih. “Kalian akan melindunginya selama perjalanan, dan jika berhasil, kalian akan membiarkannya berhadapan dengan Profmustamar, katamu? Karena kalian tahu dia tidak akan mati. Tapi, kalian sebenarnya tidak tahu cara mengalahkan Profmustamar. Ingat, kalian para peri saja tidak mampu mengalahkannya, bagaimana dengan Shadra yang cuma manusia? Jika benar nanti Shadra bisa berhadapan dengan Profmustamar, bagaimana dia bisa mengalahkannya? Ia tidak punya apa-apa untuk melawan!” katanya lagi. Haniew kini sangat sedih. Sesekali ia menangis saat berbicara.
“Sudahlah, Hanie. Pasti ada jalan keluar,” akhirnya Shadra berbicara. “Demi negeri kita, akan aku lakukan apa saja. Jika ini adalah cara satu-satunya, maka akan aku jalani. Demi negeri kita semua, teman-teman. Ingat, aku pemimpinnya,” ia berbicara dengan nada bersemangat. Tapi ia tetap saja tidak bisa menyembuyikan kesedihannya. Juga rasa keraguan dalam dirinya.
Semuanya terdiam cukup lama di meja itu, memikirkan apa yang akan dilakukannya besok. Api sudah mulai redup kembali, Naim mengambil kayu bakar, dan memasukkannya ke dalam perapian. Baru saja ia hendak memasukkan kayu bakarnya, Droke berbicara.
“Tidak usah dimasukkan,” katanya. “Saya kira perbincangan kita malam ini sudah cukup. Kalau mau tidur, kamar kalian ada di ujung lorong. Selamat malam,” katanya lagi, dengan nada sinis dan kemudian berdiri, berbalik dan menjauh pergi. Namun Shadra masih sempat melihat orang itu meliriknya tajam sebelum berbalik. Tatapan matanya menyiratkan kebencian yang mendalam. Tapi Shadra berfikir, jika Droke berniat jahat kepadanya, paling tidak ia tidak akan mati di tangan orang itu –di tangan semua peri dan manusia langit, mungkin.
Droke pergi meninggalkan ruangan itu. Shadra dan lainnya berdiri, hendak meninggalkan meja itu. Tapi Melsky menahan mereka.
“Masih ada yang harus aku sampaikan,” katanya. “Masalah Bola Bilx, tentu saja. Bukankah aku berjanji akan memberitahu kalian?”
“Benar. Apa maksudmu dengan bola itu?” tanya Shadra, kembali duduk di kursinya.
Lalu Melsky mulai kembali bercerita. “Sebelum semua bencana ini terjadi, para peri dan manusia langit pernah menciptakan sebuah benda berkekuatan besar. Benda itu dibuat dengan seluruh kekuatan para peri, termasuk para ketua dan anggota Dewan Langit.
“Benda itu berbentuk bola kaca, kami menyebutnya sebagai Bola Bilx. Benda yang sangat kuat, tapi kekuatannya tergantung pada hasrat dan kekuatan pemegangnya. Kurasa kalian mengerti maksudku.
“Dan sekarang, bola itu berada dalam kekuasaan Profmustamar. Ia menggunakan bola itu untuk menyerap kehidupan pada suatu negeri. Dan kini, kehidupan negeri kalianlah yang diserapnya. Kami para peri dan manusia langit tidak mengetahui tujuan ia melakukan ini. Yang kami tahu, kami harus bertanggung jawab atas ini semua. Kami harus berhasil merebut kembali bola itu, dan menghancurkannya.”
Remaja-remaja itu hanya bisa diam mendengar kata-kata Melsky.
“Bagaimana caranya bola itu bisa ada di tangan Profmustamar?” tanya Shadra.
Melsky dengan suara tenang menjawab pertanyaan Shadra. “Profmustamar dulunya adalah ketua Dewan Langit. Dialah yang mengusulkan pembuatan bola itu. Dan setelah menyatukan kekuatan para peri dan Dewan Langit, bola itu tercipta, kemudian disimpan di sebauh tempat rahasia milik Dewan Langit. Tapi, tidak lama kemudian, Bola Bilx menghilang, bersama dengan hilangnya Profmustamar. Ia pasti mencurinya! Dan hingga kini, Profmustamar tidak pernah lagi memunculkan diri di Dewan Langit. Kabarnya, ia kini berada di Brocx di selatan. Dan ke sanalah kita akan pergi, mengambil kembali Bola Peri dari tangannya.”

Kembali ke Rencana Awal

Pagi yang hangat menyambut mereka ketika bangun dari tidur nyenyak yang pertama setelah berangkat dari Unmul. Cahaya matahari masuk melalui jendela kamar yang telah terbuka. Angin yang masuk bukan angin dingin seperti angin di negeri Unmul akhir-akhir ini.
Naim sudah bangun, tetapi Madi masih tetelungkup di tempat tidur dengan dengkuran keras. Ia terlihat seperti batu besar yang dapat mengeluarkan bunyi.
Feryn masuk dari kamar sebelah bersama Haniew.
“Melsky  memanggil kalian untuk sarapan,” kata Feryn. “Cepatlah, Shadra. Biar aku yang membangunkan Madi. Melsky ingin bicara denganmu.”
Mereka semua bergegas menuju ruang tengah. Di sana Melsky dan Droke sudah duduk menunggu. Di meja sudah tersaji makanan untuk sarapan, tapi mereka sepertinya itu belum makan, tampaknya. Piring mereka masih tertelungkup di meja.
Shadra dan Naim sudah duduk di kursinya, di samping Melsky, kemudian disusul Haniew dan Feryn yang tadi membangunakan Madi. Madi belum ada di ruangan itu. “Masih belum bisa bangun,” kata Feryn.
“Baiklah, lebih baik kita makan dulu,” kata Melsky, mengangkat piringnya. “kita butuh tenaga untuk perjalanan hari ini… ke Desa Bambu”
Shadra yang baru saja hendak mengangkat piringnya terkejut mendengar apa yang dikatakan Melsky, begitu juga dengan teman-temannya. Mereka pikir mereka masih akan menginap di rumah Droke malam ini, seperti yang dikatakan Melsky semalam.
“Tapi, kau bilang kita akan pergi ke Dewan Peri langsung dari sini,” kata Shadra.
“Mmm.. ya… ehm… Ada sedikit perubahan,” jawab Droke sambil berdehem, seperti dibuat-buat.
“Tapi… yah, baiklah, semoga itu yang terbaik,” kata Haniew. Ia kelihatan tidak puas dengan keputusan Melsky dan Droke.
“Oh, kurasa makanan ini akan kurang enak jika kita membiarkannya dingin,” kata Droke lagi, mengalihkan pembicaraan. Ia lebih dulu mengambil makanan. Matanya sesekali menatap Shadra tajam.

Shadra, Haniew, Feryn dan Naim masuk ke kamar setelah sarapan. Madi baru saja bangun, wajahnya dan rambutnya masih berantakan, matanya masih sayu.
“Apa!? Kalian sudah sarapan!?” katanya, kaget setelah mengetahui bahwa teman-temannya baru selesai sarapan. “Mengapa tidak membangunkan aku?”
“Oh, yeah, maaf, aku lupa,” kata Feryn, berpura-pura
“DASAR KAMU SAJA YANG PEMALAS!!!” bentak Haniew pada Madi. “Sekarang, pergi sana makan di dapur. MASAK SENDIRI!” bentaknya lagi, tapi Madi tidak menggubrisnya. Ia kembali berbaring di tempat tidurnya.

Melsky masuk, dan bergabung dengan mereka. Mereka duduk di lantai, Madi masih di atas tempat tidur, berbaring, tapi tidak tertidur.
“Bangun, Pemalas!” kata Melsky. “Kita akan segera berangkat. Hives sudah datang.”
“Berangkat?” tanya Madi, heran. “Ke mana?”
“Ya, tentu saja ke Desa Bambu. Apa kau ketinggalan berita, huh?” kata Melsky lagi.
“Kau bilang, semalam, kita akan di sini dua malam dan …”
“Dan rencana berubah” kata Melsky, memotong kata-kata Madi.
Shadra tiba-tiba bertanya, “siapa Hives? Tadi kau menyebut nama itu.”
“Oh,.. dia itu peri yang kumaksud. Dia akan membantu kita. Kita akan berangkat jika dia sudah datang, dan sekarang dia sudah datang, jadi kita harus segera pergi,” kata manusia langit itu. “Cepatlah, kita harus bergegas. Waktu kita tidak banyak. Droke akan ikut juga bersama kita.”
Mereka mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya dalam peralanan. Kemudian bergegas ke ruang tengah untuk berkumpul. Di ruang itu sudah duduk Melsky, Droke, dan seorang wanita berambut putih panjang yang tidak mereka kenal. Pasti dia yang bernama Hives, pikir Shadra.
Dan benar saja, ketika Shadra dan teman-temannya duduk, wanita berambut putih itu berbicara. “Hives, pemandu kalian semua,” katanya, memperkenalkan diri dengan suara lembut. Senyuman ramah terlihat di wajahnya. “Dan aku adalah pria. Banyak orang mengira aku ini seorang wanita. Oh, dia tidak tahu, semua peri berwajah seperti wanita. Dan kau pasti adalah Shadra, yang banyak dibicarakan para peri dan Manusia Langit,” katanya lagi, sambil menoleh ke arah Shadra.
“Ya, dan ini teman-temanku dari Unmul. Mereka sengaja ikut untuk menemaniku,” kata Shadra.
“Dan beberapa dari mereka sangat tidak berguna,” kata Melsky kemudian, sambil melirik ke arah si Kembar yang duduk di samping Shadra. Madi menundukkan kepala saat Melsky berbicara seperti itu, tapi Naim tidak dapat melepas tatapan kagumnya kepada Hives. Ia baru pertama kali melihat peri seperti Hives.
“Baiklah, bukan masalah bagiku. Tapi yang jadi masalah, adalah jika kita tidak berangkat sekarang. Karena hari semakin siang. Ayo!” kata Hives, sambil berdiri dan berjalan menuju pintu depan.

LOUGAR

Di pagi yang hangat, delapan orang itu berangkat meninggalkan rumah Droke di Kaft untuk menuju ke Desa Bambu. Dipimpin oleh seorang peri dan dua manusia langit, mereka berjalan menyusuri jalan kecil di Desa Kaft. Beberapa penghuni desa duduk di depan rumah masing-masing, memperhatikan mereka yang sedang berjalan lambat. Beberapa penduduk melambaikan tangannya, Droke balas melambai kepada mereka, juga si Kembar ikut melambaikan tangan, tapi Haniew menarik turun tangan mereka. “Mereka tidak melambai pada kalian!” kata Haniew pada si Kembar yang sudah tampak kecewa.
Gerbang Kaft kini tidak jauh di depan mereka. Di gardu di atas gerbang itu, pada sebuah menara kayu, berdiri penjaga yang semalam meminta uang pada Melsky.
Rombongan sudah sampai di depan gerbang sekarang. Penjaga gerbang turun dari menara gardunya. Bergegas membuka pintu gerbang bagi mereka. Sesekali ia melirik ragu-ragu kepada Melsky yang tersenyum penuh kemenangan.
Melsky sengaja berjalan paling belakang, sementara rombongan yang lain sudah berada di luar pagar Kaft. Ketika ia berada di dekat penjaga yang berdiri di bawah gerbang, ia berbicara pada penjaga itu. “Setelah Droke pulang, ia akan memenggalmu. Berhati-hatilah!” katanya.
Penjaga itu terpekik, terkejut mendengar kata-kata Melsky.
“Selamat tinggal,”kata Melsky lagi, “aku hanya main-main,” katanya lagi, tertawa sambil berjalan cepat meninggalkan gerbang.

Mereka berjalan meninggalkan Kaft, menuju ke selatan, ke arah Desa Bambu.
Jalan berkelok-kelok di tepi hutan harus mereka lalui. Tapi tiba-tiba jalan di depan tidak lagi berada di tepi hutan. Jalan itu membelok ke kanan, masuk ke dalam hutan. Mereka terpaksa berjalan masuk ke dalam hutan. Tapi dengan demikian, mereka akan terhindar dari terik matahari.
Rombongan sudah sangat jauh masuk ke dalam hutan, ketika matahari sudah berada tepat di atas kepala mereka. Hari sudah siang, sudah waktunya istirahat dan makan siang.
Tapi mereka tidak istirahat siang itu. Melsky hanya memberikan mereka sedikit licova untuk sisa perjalanan.
“Oh, hanya sepotong,” keluh Madi ketika menerima licovanya. “Jika saja lebih banyak licova, pasti aku tidak perlu makan sampai berminggu-minggu.”
“Sabarlah,” kata Feryn. “Mungkin itu lebih baik daripada makanan lainnya.”
“Tapi tadi pagi aku tidak sarapan, tapi… yahh…” kata Madi, dia memakan licovanya, ”..mmm…memang lebih baik, seperinya, walau sedikit.”
Mereka berjalan terus menyusuri jalan gelap di dalam hutan. Cahaya matahari hanya sedikit yang berhasil menembus lebatnya daun pepohonan di dalam hutan ini. Beberapa pohon tampak bergerak, membuat mereka seperti diperhatikan.
“Berhati-hatilah…” kata Hives yang sedang berjalan di depan. “Daerah ini adalah wilayah populasi Lougar. Kalian bisa saja ditangkapnya dan dijadikan boneka bagi anak-anaknya. Dan mereka juga bisa membunuhmu,” katanya lagi. Membuat si Kembar bergidik ngeri, berpegangan tangan, dan berjalan lebih cepat.
“Apa? Lougar?” tanya Shadra dengan suara pelan pada Melsky yang berjalan di sampingnya.
“Makhluk kecil, bersayap. Tapi mereka lebih suka berlari –dan larinya sangat cepat.,” kata Melsky. Jawabannya membuat Naim dan Madi berjalan lebih cepat lagi.
“Bagaimana cara menghentikannya?” tanya Feryn yang berjalan di belakang Shadra.
“Dibunuh, tentu saja,” jawab Melsky. “Dan beberapa peri dapat mengendalikannya, juga beberapa manusia langit, tapi bukan aku tentu saja.”
Perjalanan terus berlanjut, mereka tidak pernah berhenti untuk sejenak beristirahat. Di sepanjang perjalanan mereka terus waspada, melihat ke kiri dan kanan, khawatir akan kedatangan para Lougar, atau Sparrex.
“Mungkin kita sebaiknya istirahat dulu di sini,” kata Droke. “Sudah lewat tengah hari.”
“Oh, baik sekali,” kata Naim, sambil menghela nafas panjang.
Mereka istirahat di bawah sebuah pohon besar. Di sekitarnya tidak ada pemandangan lain, kecuali hutan gelap dengan pohon-pohon yang rimbun.

Tiba-tiba, ketika mereka sedang istirahat, suara-suara teriakan terdengar oleh rombongan. Suara itu sangat banyak, dan makin lama makin besar. Suara itu makin dekat!
“Bersiaplah, kawan-kawan!” kata Melsky, berdiri dan mengangkat busurnya. “Lougar mendekat!”
Mereka semua berdiri, bersiap-siap untuk lari. Shadra memegang sebuah kayu yang digunakannya untuk senjata. Naim berpegengan dengan Madi, keduanya mulai gemetar ketakutan.
“Mana Droke?” tanya Haniew yang berada dalam kepanikan. Droke tidak ada di situ.
“Droke? Astaga, kemana dia?!” kata Melsky. Kini ia juga menjadi panik. Droke menghilang, sementara suara-suara teriakan keras Lougar makin lama makin mendekat.
“LARI!! LEWAT SINI!” teriak Hives, menunjukkan jalan kepada rombongan. Shadra lari lebih dulu bersama Hives, disusul oleh yang lainnya. Melsky berlari paling belakang, busurnya selalu siaga di tangannya.
Mereka terus berlari, menyusuri jalan berliku di dalam hutan. Suara-suara itu terdengar semakin dekat dengan mereka. Lougar-lougar pasti sudah sangat dekat di belakangnya.
Dan benar saja. Delapan sosok aneh, bertubuh kecil dan bersayap, berlari cepat mengejar mereka. Sosok itu bertubuh kurus, dengan telinga yang tumbuh tinggi di samping kepalanya. Tulangnya terlihat jelas dari kulitnya yang berwarna hijau lumut. Matanya menatap lurus tajam ke arah mereka dengan tatapan lapar dan buas.
Lougar-lougar itu berlari sangat cepat, dan beberapa yang terdepan sudah hampir menangkap Melsky yang berada paling belakang. Beruntung, lougar yang hampir berhasil menangkap Melsky terjatuh, tersandung oleh akar pohon yang tumbuh di atas tanah.
Pada beberapa kesempatan, Melsky berbalik, dan menembakkan tiga panah sekaligus ke arah Lougar-lougar itu. Dua lougar terlempar ke belakang, terkena anak panah Melsky. Namun lougar yang lain tidak berhenti mengejar. Kini tinggal enam Lougar yang mengejar mereka, tapi agak tertinggal di belakang Melsky.
Melsky berhenti, dan berbalik ke belakang, ke arah datangnya lougar-lougar tersebut. Ia dengan cepat memasang enam anak panah sekaligus pada busurnya. Enam lougar berlari makin dekat ke arahnya dengan meneriakkan suara-suara keras dan ribut yang memekakan telinga. Melsky tiba-tiba menembakkan panahnya dengan desingan dan kilat yang sangat cepat. Lougar-lougar itu terlempar ke belakang, diiringi teriakan yang sangat keras. Tapi satu Lougar berhasil lepas dari tembakan Melsky. Ia terbang tinggi di atas dahan-dahan pohon. Sangat cepat!
Melsky berlari lagi, mengejar Hives dan lainnya yang sudah jauh meninggalkannya. Lougar itu masih terbang dengan cepat. Kini terbang di sela-sela rapatnya dahan pohon.
Melsky terus berlari, dan kini ia sudah melihat teman-temannya berlari keluar dari hutan, menuju ke arah bukit padang rumput.
Melsky berlari lebih cepat, dan sesekali membalikkan badan untuk menembak lougar yang terbang tidak jauh di belakangnya. Tapi tembakan anak panahnya beberapa kali gagal mengenai tubuh kurus lougar yang makin beringas itu. Dan kini, hanya tersisa satu anak panah! Tinggal satu kesempatan lagi, tapi ia tidak segera melakukannya.
Dan Melsky kembali berlari. Kini ia hampir menyusul teman-temannya yang tiba-tiba berhenti di puncak bukit.
“Lari, bodoh!” teriaknya pada teman-temannya, sambil terus berlari. Tapi teman-temannya tidak mengindahkan kata-kata Melsky. mereka masih saja berdiam diri di puncak bukit.
Melsky tiba-tiba berhenti di samping teman-temannya yang hanya berdiri ketakutan. Ternyata di depannya, sebuah jurang sangat besar memotong jalan mereka. Tidak ada jalan lain yang bisa dilewati! Dan seekor lougar sudah terbang semakin dekat di belakangnya.
“Bagaimana ini? Apa yang harus.. yang harus kita lakukan?” Tanya Haniew, gugup, badannya bergetar. Nafasnya terengah-engah. Ia sudah sangat kelelahan bercampur takut.
Seekor lougar terbang cepat ke arah rombongan yang terjebak di tepi jurang. Lougar itu terbang datar, lurus, semakin dekat ke arah mereka. Di wajahnya terlihat seringai tawa menakutkan. Suara teriakannya semakin keras. Gigi-giginya yang taring terlihat ketika mulutnya terbuka lebar.
“Tidak ada cara lain,” kata Melsky. ia mencabut anak panahnya yang terakhir, memasang pada busurnya, dan mengarahkan tembakan ke arah lougar yang beringas itu.
Lougar itu terbang semakin dekat… dekat.. dan semakin dekat. Dan kini hanya tinggal beberapa meter di depan mereka!
Tiba-tiba… cahaya kilat terlihat, diikuti suara desingan anak panah! Melsky sudah melepaskan tembakan ke arah lougar itu. Dan… lougar itu berhasil menghindarinya! Dan kini ia terus terbang mendekat ke arah rombongan!
Lougar itu menyambar Hives yang berdiri di tepi jurang! Tapi ia gagal menangkapnya. Hives malah terlempar, jatuh ke dalam jurang. Lougar itu terbang ke atas, lalu dengan kecepatan tinggi menukik ke bawah ke dalam jurang, menyusul Hives. Dan mereka hilang ke dalam jurang!
Haniew ketakutan melihat ke dalam jurang. Ia tidak bisa melihat Hives, atau pun lougar itu. Jurang itu dalam sekali. Di bawahnya hanya terlihat sungai kecil yang mengalir membelah dasar jurang.
Madi dan Naim duduk di tanah, di tepi jurang, mencoba menenangkan diri dari takut dan lelah dalam dirinya. Mereka kini benar-benar sadar akan bahaya yang akan mereka hadapi dalam perjalanan ini.
Melsky dan Shadra melihat ke sekeliling, dan memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan, tanpa Hives ataupun Droke.
“Sudahlah, kita tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Melsky. Nafasnya memburu. Ia Melihat ke arah matahari, mencoba menentukan arah perjalan berikutnya.
“Kau benar,” kata Shadra. “Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan. Tapi ke mana kita akan berjalan?”
“Ke Selatan. Tampaknya kita tidak salah jalan. Kita harus memutar lewat sana, menghindari jurang ini.”
“Melsky….!!!” terdengar suara teriakan yang bergema. Mereka mencari-cari arah datangnya suara. Dan ternyata, suara itu berasal dari bawah jurang. Hives selamat! Ia kini sedang berdiri di bawah jurang, di tepi sungai, menghadap ke atas, ke arah rombongan.
“Akhirnya kau selamat!” teriak Naim ke arah Hives.
“Naiklah, jika kau masih sanggup! Kami akan menunggumu di sini!” kata Melsky pada Hives.
Hives berteriak lagi. “Jalan saja ke selatan! Susuri tepi jurang! Kita bertemu di sana! Di sana kedalaman jurang akan berkurang, dan ada jembatan kecil di sungainya!”
“Baiklah! Kita bertemu di sana!” Melsky berteriak lagi. Kemudian ia memimpin rombongan berjalan ke Selatan. Ke arah yang ditunjukkan Hives.

Mereka sudah berjalan beberapa meter, ketika ia melihat seseorang beberapa puluh meter di depannya berjalan sendirian. Mereka tidak jelas melihatnya, tapi sepertinya semua rombongan mengenalinya.
“Droke? Bukankah itu Droke?” kata Naim. Ia menyipitkan mata, mencoba melihat dengan jelas.
Rombongan berjalan lebih cepat ke arah orang itu. Dan ketika mereka sudah makin dekat, mereka sudah bisa memastikan orang itu.
“Droke!!” teriak Melsky.
Orang itu berbalik ke belakang, ke arah rombongan. Dan benar, ia Droke. Ia tersenyum.
“Akhirnya aku menemukan kalian!” katanya. Lalu ia berlari mendekati rombongan. “Maaf, aku tidak bisa membantu. Aku sudah terlambat ketika lougar-lougar itu menyerang kalian,” katanya lagi ketika ia sudah berjalan bersama yang lainnya. “Aku hanya bisa bersembunyi di balik pohon besar. Kau tahu, aku tidak membawa senjata apapun dari Kaft,” kata Droke lagi dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Dan sekarang, anak panahku sudah habis demi menembak delapan ekor lougar. Aku tidak menyangka, mereka segesit itu,” kata Melsky. “Tapi tidak apa-apa. Yang penting kita semua selamat dan bisa melanjutkan perjalanan hari ini.”
Shadra melihat berbagai kelainan pada diri Droke. Ia mulai mencurigainya. Tapi hanya sebatas curiga, ia belum punya bukti yang cukup untuk menuduh Droke.
Lalu mereka kembali berjalan. Bukit di depan semakin menurun. Jurangnya semakin mengecil, dan di kedua tepinya, sebuah jembatan kecil menjadi penghubung. Di bawah, Hives sudah terlihat lagi.
“Tunggu aku! Aku akan naik di sini!” kata Hives, berteriak di bawah. Kemudian ia mendaki jurang yang sudah tidak lagi dalam. Dalamnya hanya beberapa meter. Dan dengan mudah, Hives berhasil mendakinya sampai ke atas.
Hari sudah sore ketika mereka sudah menyeberangi jembatan, dan tiba di tepi di seberang jurang. Kemudian mereka berjalan kembali ke arah barat.
Dengan tertatih-tatih si Kembar berjalan di belakang rombongan.  Mereka berdua sangat kelelahan hari ini –mesti dikejar delapan ekor lougar hingga terjebak di tepi jurang, sungguh petualangan yang tidak pernah terbayangkan oleh mereka.
“Kita akan sampai setelah senja, kurasa,” kata Hives. “Lihatlah, di ujung sana sudah terlihat Desa Bambu. Lihat,” katanya lagi.
“Baguslah, kalau begitu,” kata Naim, kini ia dengan cepat berjalan ke depan –padahal ia sebelumnya berjalan paling lambat di belakang. “Di sana kita akan istirahat, bukan? Kalau begitu kita harus cepat,” lanjutnya. Sekarang ia sangat bersemangat mendengar bahwa Desa bambu sudah sangat dekat.
“Oh, belum tentu, Naim,” kata Hives. “Di sana kita masih akan mencari jalan rahasia menuju ke tempat Dewan Langit. Akan susah, sepertinya.” Naim kembali lemas mendengarnya, dan kembali berjalan lambat di belakang.
Mereka terus berjalan. Dan senja sudah lewat, berganti malam yang redup. Desa Bambu sudah terlihat di depan, beberapa ratus meter lagi.
“Kalian tahu?” kata Melsky, “di Desa bambu kita tidak akan bertemu dengan manusia.”
“Mengapa bisa begitu?” Tanya Haniew dan Feryn bersamaan. “Bukankah itu sebuah desa?”
Melsky diam, kemudian menjawab. “Yah, kau benar, itu sebuah desa,” katanya. “Tapi itu hanyalah nama yang diberikan manusia. Desa Bambu sebenarnya adalah gerbang rahasia yang hanya diketahui para peri dan Manusia Langit. Kalian tidak akan pernah bisa sampai ke sana tanpa seorang peri atau Manusia Langit mendapingimu. Di sana, manusia hanya melihat hamparan hutan bambu yang luas. Tapi jika kalian datang bersama para peri, kalian akan melihat sebuah gerbang besar dengan tulisan bahasa peri pada tepinya. Dan kita harus mencarinya. Beritahu aku kalau kalian menemukannya.”

Istana Langit

Mereka kini berada di antara pohon-pohon bambu yang tumbuh rapat di mana-mana. Malam yang gelap benar-benar menutup pandangan mereka. Cahaya bulan yang redup tidak bisa menembus masuk ke dalam rapatnya pohon-pohon bambu ini.
“Bagaimana kita bisa menemukan gerbang itu?” tanya Shadra. ia benar-benar kesulitan menghadapi gelapnya hutan ini.
“Ini bukan desa namanya. Ini hutan!” kata Haniew. “Gelap, lagi.”
“Tenanglah. Kita tinggal berjalan lurus, kurasa. Dan di tempat terbuka, gerbang itu biasanya akan muncul,” kata Hives. Ia berjalan sambil menunduk, mencoba menghindari beberapa batang bambu yang rebah.
Shadra dari tadi memperhatikan Droke. Ia sangat curiga dengan orang itu sejak hilangnya dia saat datang serangan Lougar. Ia terus waspada dengan Droke, tapi Droke dari tadi hanya diam, tidak berbicara sedikitpun.
Mereka terus berjalan. Di depan, mereka melihat tempat yang lebih terang, terkena cahaya bulan. Ternyata itu adalah padang rumput yang tidak terlalu luas.
Mereka menuju ke padang rumput itu. Cahaya bulan leluasa menyinari seluruh daerah itu. Rumput-rumputnya sudah tinggi, setinggi paha mereka. Dan mereka berdiam diri di tengahnya, memperhatikan sekeliling.
Tapi yang mereka lihat hanyalah dinding-dinding bambu hidup yang gelap. Hingga Feryn melihat sesuatu.
“Di sana, seperti lingkaran!” serunya, sambil menunjuk ke salah satu sudut. Dan semua rombongan melihat ke arah itu.
Lingkaran itu besar, dan sangat gelap. Tapi pada tepi lingkaran itu, pantulan cahaya bulan terlihat jelas. seolah terbuat dari perak yang licin.
“Benar, itu gerbangnya,” kata Hives. Dan mereka semua berjalan mendekati lingkaran itu.
Dari dekat, Shadra terkagum-kagum melihat ukiran yang bercahaya di pintunya. Seperti tulisan yang tidak bisa ia baca.
Melsky dan Hives berada paling depan, paling dekat dengan pintu itu. Disusul Droke yang berada di belakangnya, tapi kini ia juga berada sejajar dengan Melsky dan Hives.
“Tenanglah,” kata Melsky, menoleh ke belakang, kepada Shadra dan teman-temannya.
Lalu ketiga orang itu mengangkat tangan kanannya masing-masing, dan menghadapkan telapak tangannya ke arah pintu, kemudian mengucapkan kata-kata yang tidak dimengerti oleh Shadra dan etman-temannya. Mungkin itu bahasa khusus para peri atau manusia langit.
Lama mereka melakukannya, kemudian pintu menjeblak terbuka. Cahaya terang keemasan yang menyilaukan keluar dari pintu itu, hingga mereka semua tidak bisa melihat ke dalam. Mereka seolah tertarik oleh angin yang begitu kencang, tapi mereka mencoba menahannya. Hingga Shadra tidak bisa membuka matanya.
“Masuklah!,” teriak Melsky, dengan suara keras tertahan. “Para peri menunggu kita di Kerajaan Langit!”
Seketika saja cahaya keemasan itu hilang. Mereka tidak lagi merasa tertarik oleh angin kencang. Mereka merasa seperti melayang. Tapi tidak. Mereka kini sedang berdiri bebas di sebuah padang rumput luas. Kebun bunga di mana-mana.
“Kita di Unmul!” seru Naim. Ternyata hanya dia yang tidak berdiri. Ia terjatuh setelah keluar dari sinar keemasan tadi. Ia sangat bersemangat melihat tempat ini, berpikir sedang berada di Unmul sekarang.
“Selamat datang di Negeri Peri,” kata Melsky. Ia berjalan maju sendirian. Tapi rombongan yang lainnya mengikutinya.
Mereka semua –selain Droke, Melsky dan Hives  terpana melihat keindahan Negeri ini. Sangat indah, bahkan lebih indah dari Unmul. Mereka terlalu asik mengagumi keindahan negeri ini, sehingga Melsky sudah berjalan jauh meninggalkan mereka.
Shadra dan teman-temannya berlari mengejar Melsky. Sekarang Melsky tidak lagi bersama Droke. Ia hanya berjalan berdua dengan Hives di depan.
Shadra melihat ke sekelilingnya, dan ia berhasil melihat Droke berjalan terburu-buru ke arah sebuah pintu. Droke berjalan dengan cepat, sesekali menoleh ke belakang, seolah-olah sedang diikuti oleh seseorang.
“Ada apa dengan Droke?” Shadra berbisik kepada Feryn. “Apa kau tidak merasa ada yang ganjil dengan dirinya?”
“Entahlah,” kata Feryn, ”tapi aku tak ingin mengatakan apa-apa tentang dia. Mungkin aku tidak menyukainya.”
Mereka terus mengikuti Melsky dan Hives yang berjalan makin cepat. Kini mereka sampai pada sebuah gedung besar. Gedung itu berwarna putih bersih. Pilar-pilarnya besar dan sangat tinggi, membentuk sebuah gerbang besar yang megah. Di atasnya terukir tulisan yang sangat sulit mereka baca.
Pintunya yang tinggi dan besar terbuka. Dan dari dalam keluar seorang laki-laki tua bertubuh tegap. Shadra tidak dapat mengira-ngira usia orang itu. Sangat sulit –atau karena sudah terlihat terlalu tua.
“Akhirnya kalian datang juga,” kata orang tua itu. Suara itu sudah tidak asing bagi Shadra. Suara yang selalu datang pada mimpi Shadra, yang sering memperingatkannya, yang sering mengatakan ‘negeri kedua’ padanya. Tapi tubuhnya tidak bungkuk seperti siluet yang ia lihat di dinding kamarnya. Orang ini bertubuh tegap, walaupun dia terlihat sudah sangat tua.
Orang itu mengajak mereka masuk ke dalam sebuah ruangan besar. Langit-langitnya sangat tinggi, hingga ketika mereka melihat ke atas, mereka tidak dapat melihat apa-apa. Seperti melihat langit sungguhan.
“Kerusakan di Unmul makin menjadi,” katanya lagi, sambil terus berjalan. Kini ia memasuki koridor yang tidak begitu besar, kemudian berbelok ke kanan, masuk di sebuah lorong panjang, yang di ujungnya terdapat sebuah tangga putar. Yang lain mengikutinya dari belakang.
Feryn sempat terpekik kaget mendengar orang itu mengatakan bahwa kerusakan di Unmul makin menjadi.
Tapi tidak satupun dari rombongan yang bicara. Mereka terus saja mengikuti orang tua itu yang tidak berhenti berjalan. Kini ia sudah sampai di ujung lorong, dan menaiki tangga putar menuju ke lantai atas. Akhirnya setelah sampai di atas, ia berhenti.
Tempat ia berhenti adalah sebuah ruangan kecil yang kosong, hanya ada sebuah kursi pada salah satu tepinya. Di kursi itu duduk seorang wanita.
Melsky, Hives dan orang yang mengantar mereka membungkukkan badan ketika melihat wanita itu berdiri. “Membungkuklah,” kata Melsky dengan suara sangat pelan kepada Shadra. “Dia Ratu Nita Lodiela, ratu para peri.”
Shadra kemudian ikut membungkuk, mengikuti instruksi Melsky, diikuti teman-temannya yang lain.
“Cukup, bangkitlah,” kata Ratu Nita Lodiela. Suaranya sangat datar, seperti tanpa beban. “Selamat datang, di Istana Langit.”
Mendengarnya, Melsky dan Hives mengangkat tubuhnya, diikuti rombongan yang lain.
“Oh, kau pasti yang bernama Shadra, anak yang sudah diramalkan oleh Dewan Langit,” kata Ratu Nita Lodiela lagi, memandang ke arah Shadra. Wanita itu begitu tenang dan anggun dengan gaun putih panjang, dan kalung mutiara putih di lehernya.
Shadra tidak berkata apa-apa, hanya anggukan kecil yang ia lakukan. Sebelumnya ia belum pernah bertemu dengan seorang ratu, apalagi seorang ratu dari bangsa peri.
“Lalu, mengapa banyak sekali? yang lainnya? Siapa mereka, Melsky?” tanya Ratu Nita Lodiela kepada Melsky.
Melsky membungkuk lagi, “mereka teman-teman Shadra, yang Mulia. Mereka Memaksakan diri untuk ikut.”
“Oh, ini sangat berbahaya, kalian tahu itu. Dan kalian belum tentu bisa melakukan sesuatu,” kata ratu.
“Tapi, akan sama berbahayanya jika kami tetap tinggal di Negeri Unmul, Yang Mulia,” kata Naim.
“Lagi pula, kami teman Shadra, harus membantunya,” tambah Madi.
“Shadra,” orang tua yang mengantar mereka masuk, berbicara. “Kau –kalian harus cepat mengambil Bola Bilx,” katanya, “sebelum kekuatannya bertambah besar.”
“Tapi…tapi bagaimana kami melawannya? Sedangkan kami tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Shadra.
“Para peri dan Manusia Langit akan membantumu, tentunya,” kini Ratu Nita Lodiela yang menjawab.
“Tapi, Yang Mulia, kekuatan Bola Bilx itu sangat besar. Dan pemegangnya juga pasti memiliki kekuatan yang sangat besar. Bagaimana kami bisa melawannya?” kata Shadra.
Ratu Nita Lodiela menjawab, dengan suara datar seperti sebelumnya, “kekuatan terbesar untuk menghancurkan sebenarnya dimiliki oleh Tiger Army, Para Tentara Langit. Kekuatan mereka jauh lebih besar daripada kekuatan Bola Bilx, atau pemegangnya. Tapi, hanya keturunan terakhir Kerajaan Peri yang bisa melakukan perintah serangan itu.”
“Itu artinya, Yang Mulia bisa melakukannya?” kata Shadra, kini seringai senyum terlihat di wajahnya.
“Sayang sekali tidak, Shadra,” kata Ratu. “Aku melahirkan seorang puteri 19 tahun yang lalu. Mungkin kini ia sudah dewasa. Tapi aku tidak mengetahui di mana ia sekarang. Ia hilang ketika masih bayi, entahlah bagaimana bisa ia tidak berada dalam jangkauan penglihatan Istana Langit. Dia pastilah keturunan terakhir Kerajaan Peri.” Ia diam sejenak. “Ah, yang penting, kita harus berusaha merebut Bola Bilx dahulu. Dan kami bergantung padamu, Shadra.”
Sejenak mereka semua terdiam, membuat suasana di ruangan itu menjadi sangat hening. Tidak terdengar sura apapun.
“Mungkin kalian sekarang boleh pergi ke kamar kalian,” kata Ratu Nila Lodiela. “Para peri akan mengurusi kebutuhan kalian untuk perjalanan kalian besok pagi.”
Lalu rombongan bersama orang tua berjalan mundur sambil membungkuk, dan berbalik di dekat pintu, kemudian keluar dari ruangan itu, meninggalkan Ratu Nita Lodiela sendiri di ruangan itu.

“Tunggu, tunggu, tunggu,…” kata Haniew, menghentikan langkah mereka di koridor ketika meninggalkan ruangan Ratu Nita Lodiela. “Siapa kau, kami belum mengenalmu,” tanyanya kepada orang tua yang mengantarnya.
Orang tua itu melanjutkan langkahnya, seolah tidak mendengar pertanyaan Haniew barusan.
“Hei!! Aku bertanya padamu!” seru Haniew. Ia sangat kesal sekarang.
Orang tua itu tidak berhenti berjalan. “Shadra pasti mengenalku,” katanya, singkat.
Oh, ternyata benar. Orang tua itu pasti orang yang suaranya sering hadir dalam mimpi-mimpi Shadra.
“Anda,.. Anda Tuan Hang?” tanya Shadra kemudian, mencoba memastikan ingatannya.
“Yah, kurasa Melsky sudah bercerita banyak tentangku. Nah, ini kamar kalian. Tidurlah yang nyenyak. Masih banyak yang harus aku kerjakan,” katanya, kemudian pergi, menyusuri koridor panjang, meninggalkan mereka di depan sebuah pintu terbuka.
“Oh, sombong sekali,” kata Haniew. “Sudah tua begitu, masih juga sombong.”
“Yah, mungkin orang tua itu benar,” kata Melsky. “Tidurlah, masih banyak yang harus kita kerjakan besok. Oh, aku sudah tidak sabar.”
“Tapi, dia yang kau sebut Tuan Hang itu, kan?” tanya Haniew.
“Ya, benar. Dia yang kumaksud. Orang yang menyenangkan, bukan?”
“Ah, sudahlah, bagiku tidak. Lalu, kau tidur di mana?” kata Haniew.
“Oh, kalian tidak perlu tahu, sebenarnya. Tapi, hmm… aku tidur dua lantai di bawah kalian. Di ruang bawah tanah. Oh, tidak. Aku cuma bercanda. Aku tidur di kamar sebelah. Selamat malam.”

Shadra berjalan sendirian di dalam lorong panjang remang-remang dengan  penerang obor-obor kecil di dinding di kiri dan kanannya. Ia terus berjalan menyusuri lorong gelap itu. Ia tidak pernah merasa mengenal tempat itu sebelumnya. Sekalipun ia tidak pernah ke tempat itu.
Di ujung lorong di depannya, cahaya sudah tidak ada lagi. Sangat gelap. Cahaya obor sudah tidak mampu menyinari hingga ujung lorong itu. Tapi Shadra terus berjalan memasuki tempat gelap itu.
Shadra terus berjalan, ia tidak tahu sampai di mana. Ia tidak bisa melihat apa-apa lagi. Hingga tangannya menyentuh sesuatu. “Jeruji besi,” katanya pada dirinya sendiri.
Di belakang  jeruji besi itu, ia tidak bisa melihat apa-apa lagi. Tapi ia bisa dengan jelas mendengar rintihan suara yang sangat parau. “Tolong aku,” kata suara itu.
Shadra tidak berkata apa-apa. Ia terus saja mencoba menerawang ke dalam ruangan gelap di balik jeruji besi.. Suara gemerincing rantai yang terseret di tanah dapat ia dengar berasal dari dalam ruangan itu. Tapi ia tidak bisa melihat apa-apa. Ruangan di depannya sangat gelap. Cahaya obor dari lorong yang panjang tidak dapat menembus masuk ke dalam ruangan itu. Shadra benar-benar buta kali ini.
Hingga kemudian ia dikejutkan oleh sentuhan tangan yang kasar memegang tangannya. Dan sekarang ia dapat melihat dengan jelas orang di belik jeruji besi.
“Tolong aku,” kata orang itu, dengan suara yang sangat parau.
Orang itu terlihat sangat tua. Rambutnya putih, panjang, menyatu dengan janggutnya yang juga putih. Tangannya sangat kurus dan kasar. Dan tampaknya sudah tidak punya harapan lagi untuk hidup.
Kemudian orang itu terjatuh di lantai.
“Tolong! Ada yang terkurung di sini!” Shadra berteriak sekeras-kerasnya, berharap ada orang yang mendengar. Tapi tidak ada yang mendengat teriakannya. Tidak ada orang lain di situ, selain dia dan orang tua di balik jeruji besi.
Tapi ia terus saja berteriak, hingga tiba-tiba cahaya yang sangat terang muncul, menyilaukan mata Shadra. Disusul suara yang sangat ia kenal. “Bangun, Shadra, bangun!,” kata suara itu. Ternyata itu suara Haniew. Ia baru saja membuka jendela kamar.
“Oh, aku bermimpi lagi,” kata Shadra, lemah, duduk di atas tempat tidurnya.
“Ya sudah. Yang penting sekarang kita menyusul yang lainnya. Mungkin mereka sedang sarapan sekarang. Ayo, cepat. Oh, kau tahu, kurasa kita akan terburu-buru berangkat hari ini. Ini sudah tidak pagi lagi.”

Semua sudah selesai sarapan ketika Ratu Nita Lodiela datang menemui mereka di meja makan, di ikuti laki-laki tua yang memandu mereka masuk ke dalam istana. Di meja makan itu Hives, Melsky dan Droke sudah ada. Droke menatap Shadra dengan kebencian. Shadra sendiri tidak mengerti mengapa ia seperti itu.
“Baiklah, semua sudah terkumpul,” kata Ratu Lodiela, membuka percakapan. “Ada yang harus kita semua perhatikan sebelum kalian berangkat.
“Pertama, kurasa kalian semua sudah tahu misi ini sangat berbahaya. Jadi, hanya mereka yang benar-benar siap untuk pergi sajalah yang akan ditunjuk.
“Kedua, kita sudah merencanakan jalur yang akan kalian lalui dalam perjalanan nanti. Jadi, kalian jangan sampai tidak mengikuti semua rencana kita.”
“Kurasa sebaiknya kalian semua harus tahu siapa-siapa yang akan berangkat menjalankan misi ini,” kata Tuan Hang. Anak-anak dari Unmul sangat serius mendengarkan kata-kata orang tua itu, kecuali si kembar. “Pertama, tentu saja aku, sebagai penuntun jalan kalian. Lalu, Melsky, orang yang sangat aku percaya untuk melindungi kita, lalu Hives, sebagai penunjuk arah, dan Droke, tentu saja, si ahli pedang.” Shadra langsung lemas mendengar bahwa Droke diikutkan dalam misi ini. Ia  benar-benar tidak percaya kepada manusia langit yang satu itu.
“Shadra, kau jelas akan ikut, juga Haniew dan Feryn. Kurasa kita akan membutuhkan kalian. Dan si kembar, kuharap kalian tetap tinggal di sini, mungkin kalian harus menemani Ratu di sini. Kalian belum siap untuk ikut, kurasa,” kata Tuan Hang lagi.
“Oh, tidak. Tentu saja kami siap. Kau tidak bisa menghentikan kami untuk ikut,” sergah Madi.
“Benar. Pokoknya kami harus ikut. Shadra teman kami, dan kami harus bebaskan orang tua kami,” kali ini Naim yang bicara.
“Keputusan ini tidak bisa diubah!” kata Tuan Hang dengan suara yang meninggi. “Kalian tetap di sini. Kami sudah memikirkannya matang-matang. Ingat itu!”
“Madi, Naim, mungkin mereka benar,” kata Feryn pada si kembar. “Mereka pasti punya alasan untuk memutuskan ini. Percayalah.”
“Tapi,… Oh, Shadra, izinkan kami ikut,” Madi berkata pada Shadra dengan nada memohon.
“Tidak, Madi. Aku tidak bisa membahayakan kalian. Kuharap kalian mengerti. Ratu di sini pasti akan membutuhkan kalian,” kata Shadra. Si kembar akhirnya menuruti saja keputusan itu.
“Baiklah kalau begitu,” kata Tuan Hang. “Dari sini kita akan langsung menuju ke Desa Bambu tempat kalian masuk ke Negeri Langit. Dari tempat itu kita akan bergerak ke Leogard di tenggara. Dari Leogard kita langsung berbelok ke utara, langsung menuju ke Lomic, tempat mereka bersembunyi. Di sana kita akan mengambil kembali Bilx.”
“Tunggu, apa itu Leogard? Aku belum pernah mendengarnya sebelumnya,” tanya Shadra.
“Itu nama hutan. Cukup jauh dari sini, kurasa,” kata Melsky. “Aku pernah ke sana sebelumnya, bersama tiga temanku. Dan yang bisa kembali pulang hanya kami berdua. Bukan begitu, Hives?” katanya lagi, menghadap kepada Hives. Shadra sempat melihatnya mengedipkan mata kirinya kepada Hives.
“Yang harus kita ingat adalah,” kata Tuan Hang, “jika salah satu dari kita ada yang terluka atau mati,” Haniew bergidik mendengarnya, “maka yang lain harus tetap jalan. Rencana tidak boleh berubah. Ingat itu!”

7 Anggota Rombongan

Dan mereka pun segera berangkat. Mereka tidak membawa banyak perlengkapan. Hanya senjata yang kira-kira akan membantu perjalanan mereka; Melsky dengan busur besar dan anak panahnya; Droke dan Hives dengan pedang besarnya yang panjang; Tuan Hang dengan tongkat jalannya yang panjangnya setinggi badannya; dan anak-anak Unmul dengan pedang-pedang kecil di pinggangnya.
“Kurasa kalian butuh ini,” kata Ratu Lodiela, ketika menghampiri mereka di depan istana.
“Maaf, apa maksud yang mulia?” tanya Hives, pelang.
Ratu tidak langsung menjawab pertanyaan Hives tadi. Ia menutup matanya, kemudian menepukkan tangannya dua kali. Dan tiba-tiba tujuh ekor kuda putih muncul di samping mereka.
“Kuda Peri,” kata Ratu Lodiela. Berhati-hatilah selama perjalanan. “Semuanya bergantung pada kalian.” Kemudian Ratu itu berbalik pergi, masuk kembali ke dalam istana.
“Wah, luar biasa,” seru Melsky, kagum melihat kuda-kuda itu. “Sudah lama aku menantikan ini. Aku tidak pernah menaikinya sebelumnya.”
“Tapi… tapi kami tidak bisa menunggang kuda,” keluh Haniew.
“Ini kuda peri. Kuda yang hebat. Mereka tidak akan menjatuhkan penunggangnya, kecuali kalian terlalu bodoh,” jawab Droke, sambil menatap tajam kepada Shadra.
“Baiklah,” kata Tuan Hang, menaiki salah satu kuda yang ia pilih. “Kita berangkat!” dan berlalu pergi.
Yang lain dengan cepat mengikutinya, berlalu pergi dan… Wussshhh!!! Mereka sudah berada pada tempat yang lain, yang sepertinya mereka kenal. Mereka berada pada lahan luas dikelilingi hutan gelap. Di belakangnya ada lubang besar, seperti pintu. Kini mereka berada di Desa Bambu.
Kuda mareka terus berlari cepat mengikuti Tuan Hang yang berada di paling depan. Menembus masuk ke dalam hutan bambu yang sangat lebat.
Shadra heran melihat hutan ini. Sebelumnya ketika mereka pertama kali ke tempat ini tidak ada jalan seperti yang mareka lalui sekarang.
“Kenapa, Shadra? Heran?” tiba-tiba Melsky yang menyusulnya terdengar berbicara.
“Ya, bukankah kemarin di sini tidak ada jalan?” tanya Shadra.
“Itulah gunanya kuda peri,” jawab Melsky sambil terus melaju melewati jalan-jalan mulus di antara rimbunnya hutan bambu.
Dan tidak terasa mereka sudah keluar dari hutan bambu. Tuan Hang berhenti di depan, di tepi jurang, menunggu yang lainnyayang tertinggal di belakang.
“Dengarkan dulu sebentar,” kata Tuan Hang, begitu Droke yang paling akhir tiba di tempat itu. “Dari sini kita akan menuju ke Leogard di tenggara. Kemudian dari sana, seperti yang sudah kita bicarakan, kita akan melanjutkan perjalanan ke utara menuju Lomic. Ada pertanyaan? Tidak ada? Baiklah, kita berangkat sekarang.” Dan Tuan Hang memacu kudanya ke tenggara, diikuti yang lain di belakangnya.
Baru sekitar satu mil mereka berjalan, Tuan Hang berhenti lagi. Kemudian turun dari kudanya.
Ia mengambil ranting kering yang patah tergeletak di tanah. Kemudian ia menggambar di tanah, seperti yang dilakukan Melsky saat masih di Unmul. Ia menggambar peta. Kemudian masih sama seperti yang dilakukan Melsky, ia mengambil segenggam pasir, kemudian menaburkan pasir itu di atas peta yang ia gambar. Dan gambar itu pun berubah menjadi miniatur perjalanan mereka.
“Perhatikan, sebentar,” kata Tuan Hang pada yang lainnya. “Ini peta perjalanan kita. Kita akan bergerak lurus ke tenggara, kemudian jika tidak ada masalah, kita akan melalui pegunungan Pesa ini besok sore,” katanya lagi, menunjuk pada deretan gunung-gunung kecil. “setelah melewatinya, kita akan sampai di Leogard sekitar tengah malam. Kuharap kalian semua hati-hati selama perjalanan ini. Banyak makhluk-makhluk ganas yang siap menyerang kita kapan saja. Mungkin saja mereka semua dikendalikan dari Lomic. Itu menurutku.”

September 21st, 2005 by sendirikutermenung

Surat kepada sahabatku di seberang jauh melewati lebat hutan

Kapan kita kembali ke malam di mana kita melihat burung hantu bersandar mengintip kita di tepi danau berdua?
Masih jelas kuingat ketika memimpin doa untukmu, agar kita tetap dilindungiNya, Tuhan kita, dari kejadian yang menimpa sesuatu yang disembunyikan di dasar air.
Aku masih juga ingat mengapa malam itu kita datang ke tempat rahasia kita itu, saat aku sedih. Aku yang menunjukkan jalan, namun kau yang mengajakku ke sana.
Itu tempat kesukaanku, itu yang kukatakan saat itu. Tempatku tenangkan riak hati dalam ruang dada yang begolak.
Dan hari ini masih sama, itu masih tempat yang sama, bahkan masih sama di hati ini.
Walau kini aku lebih sering sendiri, selalu sendiri.
Dan burung hantu sudah letih menunggumu. Tidak lagi ia tertarik melihatku sedih duduk melesu di bawah pohonnya.
Apalagi jika mengenang tentang cerita sesuatu yang berada di dasar air itu.
Burung hantu itu sudah jarang duduk di dahannya.
Hanya sesekali melintas di atasku diam-diam, mengintai dirimu, apakah telah kembali.

Salam paling indah darinya untukmu, ia masih mengharap melihatmu di bawah pohonnya menemaniku. Walau kini aku akan berusaha membiasakan diri dengan kesendirian.

Salam paling indah pula dariku untukmu, jika surat ini tidak sampai padamu kuharap tidak kau lupakan aku yang sedang diam menunggu di tempat duduk di tepi tempat rahasia kita.
Dan terimakasih atas pemberianmu malam itu. Ia masih indah. Aku akan terus mengharapkan kau terus memberiku di tiap kehadirannya.

no title

September 13th, 2005 by sendirikutermenung
Persahabatan

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadangmelelahkan dan menjengkelkan,tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyainilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan,tetapi persahabatan sejatibisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersamakarenanya...

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapimembutuhkan proses yangpanjang seperti besi menajamkan besi, demikianlahsahabat menajamkansahabatnya. Persahabatan diwarnai dengan berbagaipengalaman suka dan duka,dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan,didengar-diabaikan,dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengajadilakukan dengantujuan kebencian.

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahanuntuk menghindariperselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikandiri menegur apaadanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman,tetapi menyatakan apayang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mauberubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usahapemeliharaan darikesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkanbantuan barulah kitamemiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan danpernyataaan kasih dariorang lain, tetapi justru ia beriinisiatif memberikandan mewujudkan apayang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupansahabatnya, karena tidakada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namuntidak semua orangberhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telahmenikmati indahnyapersahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karenadikhianatisahabatnya.

Renungkan:Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dariseribu teman yangmementingkan diri sendiri "Dalam masa kejayaan, teman2mengenal kita. Dalamkesengsaraan, kita mengenal teman2 kita."**

Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalamkesulitan. Siapa yang beradadi samping anda ??

Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidakdicintai??

Siapa yang ingin bersama anda pada saat tiada satupunyang dapat andaberikan ??

Merekalah sahabat2 anda.

Hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda denganmereka.

____dari seseorang, udah lama. dan pasti dia tidak mau namanya ditulis di sini___

~~~~~~|

September 5th, 2005 by sendirikutermenung

Untuk sahabat yang berlari
Bawalah aku jauh dari sini
Ketika kau terbang
Ajarkanku melayang tinggalkan tempat ini
Sejauh yang kau bisa
Sejauh yang kita bisa

Untuk sahabat yang diam terbungkus sepi
Hangatkan dirimu dalam pelukan sayap malaikat
Yang tersenyum menghiburmu
Meski kau tidak dapat menjamahnya
Dengan tanganmu
Bahkan matamu

Sahabat
Palingkan wajahmu dari jalan yang masih jauh di depanmu
Sesekali aku berharap kau melihatku jauh di belakangmu
Yang kini berjuang menggapai punggungmu
Dengan ujung-ujung jariku
Dan dengan waktu yang kian menghilang
Tiap waktuku kini adalah kesuraman
Kujalani dengan kaki merangkak
Lelah, sesekali kehilangan nafas
Kuikuti Kau yang kini jauh di depan
Kujadikan Kau panutan langkahku
Meski terkadang kau menghilang dari tatapanku
Meski terkadang kau berpaling

Sahabat,
Ajaklah aku arungi samudra dalam
Ajari aku menyusuri pantainya yang suram dan kotor
Bawalah aku ke terik mentarinya
Hangatkan kulitku yang tak lagi mampu selimuti hati yang dingin membeku

~~~AZUMI~~~

September 5th, 2005 by sendirikutermenung

Sialan!! cewek satu ini bisa potong-potong aku kurang dari satu detik!!! Gila!! cantik-cantik kejam juga kalo membunuh!! Jago pedang lagi!!! Tapi, hatinya kok lembut ya?
Dulu, taon 2003, teman2 udah pada rame nonton film ini. Kirain film biasa aja. Jadi gak terlalu penasaran. Sekalinya, pas taon kemaren aku pertama nonton, wahh, langsung jatuh hati!!! gila, sedih, kasian, kagum, terkesima, kereeenn…
Udah nonton seri 1 sama 2, waah, tapi kayaknya bagusan seri 1. Abisnya masih banyak temannya, jadi ada yang bantuin. Kalo yang ke 2, Azumi-nya tinggal sendirian, temannya mati semua. Terus, hatinya sudah mulai melemah, jadinya g terlalu hebat lagi.
Nonton aja deh, seri 1 sama 2. Film lama sih, tapi.. g Bakal nyesal. keren. hahahaha (promosi) Kalo mau yang bajakan, beli sama aku aja. murah. 5000 per cd. hahaha
1111450160azumi_grab04